Dolar Rp17.100 Tak Berarti RI Balik ke Krisis 98, Ini Alasannya

Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
Selasa, 14/04/2026 10:35 WIB
Foto: Fokus 25 tahun krisis 1998

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini terus memasuki tren pelemahan, hingga semakin betah di level atas Rp 17.000/US$ yang seolah menjadi equilibrium atau titik kesimbangan baru.

Per hari ini saja, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar pada saat pembukaan perdagangan. Merujuk data Refinitiv, Selasa (14/4/2026) rupiah mengawali perdagangan di zona merah dengan depresiasi sebesar 0,09% ke level Rp17.110/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (13/4/2026), mata uang Garuda ditutup melemah tipis 0,06% di posisi Rp17.095/US$.


Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran atas Rp 17.000 ini pun sebetulnya sudah terjadi sejak 1 April 2026. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada 1 April kurs rupiah diperdagangkan antar bank rata-rata di level Rp 17.002. Sejak saat, Jisdor tak mencatat mata uang garuda mampu bergerak di level bawah Rp 17.000, bahkan terus bergerak naik hingga Rp 17.122/US$ pada 13 April 2026.

Level baru rupiah ini pun tercatat sudah melampaui level tertinggi saat krisis moneter 1998. Sebagaimana diketahui, saat itu, nilai tukar rupiah yang semula stabil di kisaran Rp2.500 per dolar AS tiba-tiba merosot tajam hingga menyentuh lebih dari Rp15.000 per dolar pada awal 1998. Bahkan, rupiah sempat berada di level yang sangat lemah, yakni Rp16.800/US$.

Walaupun kurs rupiah tengah mengalami tekanan, hingga secara nilai malampaui periode krismon, tapi ekonom senior yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, melihat kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih kuat dibandingkan zaman krisis 1998.

Adapun yang menjadi letak pembeda kekuatan ekonomi Indonesia saat ini dibandingkan dengan zaman krisis diantaranya yakni ada pada sektor riil. Menurutnya, kondisi sektor riil pada 1998 sangat rapuh sehingga tidak mampu menjaga pertumbuhan ekonomi kala itu hingga berjung pada mencuatnya sentimen negatif investor yang membuat rupiah terdepresiasi dalam.

"Beberapa diantaranya sektor riil, kondisi fiskal, termasuk sektor keuangan. Sektor rill, jika dibandingkan dengan 1998, 2020 saat pandemi. Di 1998 riil rapuh, meski saat 1997 pertumbuhan ekonomi sempat tinggi," ujarnya dalam Central Banking Forum 2026 di The Grand Ballroom, Mandarin Oriental Jakarta, Senin, (13/4/2026).

Penguatan sektor riil sendiri dinilainya sangat penting. Mengingat sektor ini menjadi tulang punggung utama perekonomian yang berkontribusi langsung pada pembentukan PDB. Jika pemerintah saat ini berhasil menjaga sektor riil tetap kuat dengan penciptaan lapangan pekerjaan yang terjaga. Ketahanan ekonomi Indonesia bakal tetap kuat di tengah kondisi geopolitik global.

Ia pun melihat beberapa waktu terakhir, ada indikasi dalam 5 bulan akhir 2025 penjualan ritel naik terus hingga 3 bulan pertama 2026. "Di 2020 saat COVID, kuat riilnya. Tapi setelah COVID, pelemahan signifikan di sektor riil, ini yang harus kita balikkan," terangnya.

Kedua, ialah soal fiskal. Ia mengakui tingkat utang Indonesia dan negara-negara lain tetap tinggi usai pandemi. Oleh sebab itu ia berharap pemerintah bisa mengelola dengan baik, atau menjaga defisit fiskal tidak lebih dari 3% untuk tetap menjaga kepercayaan pasar.

"Yang membedakan kelembagaan dan sektor keuangan. Saat ini jauh lebih baik, jadi daya tahan dan antisipasi lebih baik untuk sekarang," tutupnya.

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan bank sentral pun hingga kini sudah banyak belajar dari periode krisis keuangan 1998, dalam mengatasi guncangan yang menekan pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar uang RI.

Ia menekankan, bank sentral dalam keadaan penuh ketidakpastian yang menekan pasar keuangan saat ini cenderung akan mendorong mekanisme pasar bekerja secara efektif, bukan lagi melakukan kontrol devisa. Tujuannya mendorong arus modal asing atau capital inflow masuk sesuai faktor fundamentalnya, sehingga BI sifatnya hanya menjaga pasar. Jika ada volume likuiditas berlebihan, BI akan menyerap tanpa menganggu mekanisme pasar.

Dalam menjaga nilai tukar dan pasar keuangan dalam negeri, BI akan memanfaatkan makensime layer of defense, termasuk cadangan devisa. BI pun memiliki swap agreement untuk mendukung cadangan devisa dengan berbagai bank sentral negara lain. 'Amunisi' ini bisa digunakan juga diperlukan kapan saja.

Sebagai catatan, Indonesia telah memiliki kerja sama bilateral swap arrangement dengan sejumlah negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Kerja sama ini dituangkan dalam Chiang Mai Initiative dan selain itu, ada pula skema multilateral dengan negara-negara ASEAN.

"Belajar dari 98, bank sentra belajar dengan safety net jadi kita punya arrangement bersifat regional dan global. Layer of defense ready dan dalam jumlah yang memadai. Sekarang bagaimana jika berkepanjangan, kita tentunya berharap hope for the best," tegas Erwin.

Kendati memiliki layer of defense yang kuat, BI juga mendorong pengusaha untuk melakukan hedging atau lindung nilai. Lindung nilai ini digunakan untuk mengunci paparan (exposure) terhadap tekanan terhadap rupiah.

"Kami dorong bapak - ibu kalau layaknya orang mau mudik baiknya booking ticket jangan go show. Instrumen hedging sudah berkembang, silahkan gunakan sebagai insurance untuk mengunci exposure nilai tukar," kata Erwin.

Dengan hedging yang terukur, maka pengusaha tidak perlu langsung datang ke pasar spot untuk membeli dolar. Dia pun meminta pengusaha membeli instrumen hedging yang sudah disediakan perbankan. Langkah ini membantu distribusi dolar.

"Jangan datang ke pasar beli spot...Kami himbau ada hedging, bisa secara natural dan instrumen sesuai yang sudah dibolehkan oleh regulator. Sebut saja reservasi lewat instrumen hedging itu membantu agar permintaan dolar bisa terdistribusi," tegasnya.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menambahkan, pelaku industri jasa keuangan juga sebetulnya kini telah melakukan berbagai mekanisme pengamanan sistemik untuk mencegah terulangnya periode krisis yang ia sebut traumatik. Salah satunya ialah mempertebal rasio kecukupan modal (CAR) di atas level 8% Otoritas Jasa Keuangan (OJK). CAR perbankan kini di kisaran 25,83%.

"Jadi CAR kita itu memang salah satu yang tertinggi mungkin di dunia. Mungkin kita masih ingat pengalaman krisis-krisis sebelumnya terutama krisis 98 itu kenapa mungkin bankers-bankers kita itu masih relatif menginginkan modal yang tebal," ucap David.

Berbagai kondisi inilah yang membuat pergerakan kurs sebetulnya tidak mengalami volatilitas atau gejolak ekstrem seperti 1998, meskipun secara nilai telah bertengger di level atas Rp 17.000/US$.

"Pengusaha itu sebenarnya, utamanya, buat mereka itu bukan level atau threshold tertentu dari Rupiah. Tapi yang dilihat oleh mereka itu volatilitasnya. Kalau terlalu volatil seperti ada satu negara South Africa 4%-5% menguat atau melemah itu buat mereka malah menurunkan confidence mereka untuk mengambil keputusan bisnis," kata David.

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fsikal (DJSEF) Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad juga menegaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih terus terjadi hingga hari ini ternyata tidak seburuk dibanding mata uang negara-negara lain yang memiliki kapasitas ekonomi setara dengan Indonesia.

Ia menekankan, volatilitas rupiah yang lebih baik ini disebabkan fundamental ekonomi makro Indonesia yang memang kuat. Terlihat dari purchasing managers index (PMI) manufaktur yang masih di level ekspansi 50,1 pada Maret 2026, hingga pertumbuhan kredit yang masih mencapai kisaran 9,37% secara tahunan atau year on year.

"Jadi tekanan RI masih moderat dibandingkan peers. Depresiasi rupiah masih terkendali," kata Faisal dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75. 7 Negara itu seperti India rupee 8,92, Filipina peso 10,55, Thailand bath 12,40, Meksiko peso 13,20, Brazil real 13,69, Argentina peso 14,50, dan Afrika Selatan rand 16,34.

Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah ke level Rp 17.100 per dolar AS. BI mencatat, depresiasi hingga pekan ini sejak awal tahun hanya 2,91%, padahan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.

"Jadi Indonesia kuat dibanding peers, inflasi terkendali, fiskal prudent, kita jaga defisit prudent. Rasio utang di bawah batas 60%," tutur Faisal.


(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Anjlok & Dolar AS Sentuh Rp 17.100, Apa Yang Terjadi?