MARKET DATA

Jurus Habibie Sukses Turunkan Dolar dari Rp 16.000 ke Rp 6.550

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
17 May 2026 20:20
habibie
Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia — Pergerakan kurs rupiah kembali menjadi sorotan publik setelah nilainya terus menjauh dari asumsi pemerintah dalam target nilai tukar 2026 sebesar Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah di posisi Rp17.460 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026.

Situasi tersebut mengingatkan pada krisis ekonomi 1998, ketika dolar AS sempat menembus kisaran Rp16.800. Bahkan pada masa itu tekanan yang terjadi jauh lebih berat karena lonjakan kurs berlangsung sangat cepat dan kemudian menjalar menjadi gejolak politik nasional.

Krisis tersebut pada akhirnya mengakhiri lebih dari tiga dekade pemerintahan Presiden Soeharto. Meski terjadi pergantian kepemimpinan ke B. J. Habibie, pelaku pasar saat itu belum langsung percaya kondisi ekonomi bisa segera pulih karena muncul keraguan terhadap kemampuan pemerintah baru dalam menangani krisis.

Dia bukan ekonom, hanya teknokrat pembuat pesawat yang dianggap kritikus Orde Baru sebagai kebijakan buang-buang uang. Apalagi, saat itu dia juga masih dianggap bagian dari rezim Orde Baru. Bahkan, Presiden Singapura Lee Kuan Yew juga menganggap naiknya Habibie jadi orang nomor satu bisa membuat rupiah makin tak berdaya.

Namun, itu semua salah. Habibie faktanya berhasil menaklukan dolar lewat 3 cara ini:

1. Restrukturisasi perbankan

Sebagai catatan, pada masa Orde Baru pendirian bank dipermudah oleh pemerintah berkat kebijakan Paket Oktober 1988. Sayang, kemudahan pendirian bank ini tak dibarengi oleh kemampuan perbankan yang baik. Alhasil, saat terjadi krisis, banyak bank-bank bertumbangan. Nasabah lantas melakukan penarikan dana besar-besaran.

Permasalahan ini jadi fokus utama. Habibie melakukan restrukturisasi perbankan seraya berharap Bank Indonesia makin kuat. Salah satu caranya mencabut aturan tersebut dan mempraktikan langsung pada bank pemerintah. Empat bank milik pemerintah digabung menjadi satu bank bernama Bank Mandiri.

Selain itu, dia juga memisahkan BI dari pemerintah lewat UU No.23 tahun 1999. Dalam otobiografinya, B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan (2006), Habibie bilang kebijakan itu jadi langkah terbaik menguatkan rupiah. BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.

2. Kebijakan moneter ketat

Kebijakan moneter Habibie mengatasi krisis melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI diterbitkan dengan bunga tinggi dengan tujuan agar bank-bank kembali dipercaya masyarakat. Jika ini terjadi, maka masyarakat akan kembali menabung, sehingga menurunkan peredaran uang di masyarakat.

Pria berdarah Sulawesi itu mengklaim kalau cara ini sukses. Berkat SBI, suku bunga dari 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap bank pun kembali meningkat.

3. Pengendalian harga bahan pokok.

Habibie menganggap kebutuhan bahan pokok jadi hal vital. Alhasil, dia mempertahankan harga listrik dan BBM subsidi agar tidak naik, sehingga harga bahan pokok tetap terjangkau di tengah krisis.

Pada sisi lain, kebijakan ini juga menuai kontroversi sebab Habibie mengeluarkan pernyataan nyelenah. Dalam salah satu pidatonya, dia pernah meminta rakyat berpuasa di kala krisis supaya lebih hemat.

"Ketika terjadi masa krisis saat B.J. Habibie diangkat menjadi presiden, ia menganjurkan rakyat melakukan puasa Senin-Kamis," kata A. Makmur Makka saat menulis buku biografi Habibie, Inspirasi Habibie (2020).

Pada akhirnya, ketiga cara tersebut sukses membuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia meningkat. Aliran dana investor kembali masuk. Dan yang terpenting dolar AS kembali menguat dan terkendali ke level Rp6.550.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rahasia Habibie Menjinakkan Dolar dari Rp16.000 ke Rp6.550


Most Popular
Features