MARKET DATA

BI 24 Jam Tak Tidur Jaga Rupiah, dari New York sampai Hong Kong

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
14 April 2026 08:25
Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia menyatakan komitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Efek perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel merembet ke pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan pesan tegas, "Bank Indonesia akan terus berada di market!" katanya saat memberikan sambutan kunci di Central Banking Forum 2026, Jakarta pada Senin (13/4/2026).

Destry mengatakan bank sentral Indonesia itu akan berada di pasar 24 jam untuk menjaga stabilitas rupiah. Terlebih saat dunia sedang tidak baik-baik saja.

"Jadi Bank Indonesia sekarang buka 24 jam bapak/ibu," tegas Destry.

"Jadi jam di Singapura buka, 1 jam atau di Hongkong kita udah buka juga. Kemudian nanti kita tutup jam 3 tutup, Eropanya masih jalan. Kemudian teman-teman istirahat sebentar nanti jam 8 pagi, jam 9 ya di Amerika, di kita kan sekitar jam 8 malam atau 9 malam buka," terang Destry.

Hal 2. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BIFoto: Hal 2. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI
Hal 2. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI

Bank Indonesia akan mengoptimalkan kantor Perwakilan di luar negeri untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi agar nilai tukar stabil, sehingga dapat menahan bahkan menarik kembali kepercayaan investor.

Sebab, nilai tukar suatu negara juga menjadi salah satu indikator bagi investor di pasar keuangan untuk menilai kondisi ekonomi suatu negara. Sehingga dengan aksi intervensi BI di pasar, diharapkan dapat menjaga rupiah tidak lebih buruk di tengah kondisi dunia yang berpotensi melambat.

"Kita akan masuk di spot, kita akan masuk di DNDF, Domestic Non Deliverable Forward , dan kita akan masuk juga di NDF. NDF itu pasar offshore dan kita juga akan memperluas basis pelaku nanti yang untuk NDF di luar," ujar Destry.

Bagaimana keadaan rupiah?

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan Senin (13/4/2026) di zona merah dengan depresiasi sebesar 0,06% ke level Rp17.095/US$. Meski masih melemah, posisi ini menunjukkan rupiah tetap bertahan di bawah level psikologis Rp17.100/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh Rp17.135/US$, namun tekanan tersebut perlahan mereda hingga akhirnya ditutup lebih rendah dari level tersebut.

Hal 4. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BIFoto: Hal 4. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI
Hal 4. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI

Mata uang Garuda mengalami pelemahan yang signifikan sejak adanya perang di Timur Tengah, tercermin dengan pergerakan yang stabil di rentang Rp16.950-17.100 per 1US$. Meskipun demikian, Destry mengatakan bahwa pelemahan tersebut tidak berarti membuat rupiah menjadi mata uang terlemah di dunia.

Pasalnya, pelemahan juga terjadi pada mata uang regional secara umum serta dunia. Bahkan, rupiah termasuk yang mampu bertahan untuk menahan guncangan dunia yang sedang kencang-kencangnya.

"Jadi kalau dilihat apakah Indonesia sendirian? Enggak. Kita lihat sejak adanya serangan di Iran, maka beberapa negara termasuk Korea, Thailand, Filipin itu mereka mengalami depresiasi yang cukup dalam. Kita juga sama mengalami kita minus 1,91% dan ini posisi kalau di year to date sejak awal tahun," kata Destry.

Setidaknya ada dua hal yang yang memberi dampak kepada pelemahan rupiah terhadap greenback. Pertama adalah terjadinya arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia ke tempat lebih aman.

"Jadi bukan hanya ke Indonesia, tapi ke emerging market juga berkurang (inflow) dan di Indonesia pun kita merasakan. Overall kita masih terjadi outflows sekitar Rp21 triliun," ucap Destry.

Hal 5. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BIFoto: Hal 5. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI
Hal 5. Perkembangan Ekonomi Moneter dan Respons Kebijakan Bank Indonesia Dok BI

Selain itu, menurut Destry faktor arus modal asing keluar adalah mencari tempat aman, dan salah satunya adalah AS. Termasuk karena keterlibatan Amerika Serikat sebagai financial-hub terbesar di global dalam adu militer dengan Iran juga turut membuat indeks dolar berjaya.

"Jadi artinya para pelaku di sektor keuangan ini mereka berusaha untuk menjauh dari risiko, mereka tidak mau mengambil risiko. Dengan ini menyebabkan terjadinya safe haven activity. Jadi untuk amannya cari deh pasar yang kira-kira aman buat mereka dan mau gak mau memang flow akhirnya banyak ke advance economy (country)," imbuhnya.

"Termasuk kita juga lihat di Amerika sendiri DXY-nya juga terus mengalami peningkatan. Jadi dolar index dan major currency yang lainnya terus mengalami peningkatan."

Sebagai informasi, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,26% ke level 98,906.

"Jadi artinya ini ada risiko yang menyebabkan adanya ketidakpastian global, DXY-nya naik, yield 10 years-nya juga naik, aliran modal yang turun, berbagai mata uang itu juga meningkat."

Maka dari itu, intervensi BI pasar dalam keadaan penuh ketidakpastian penting. Terlebih lagi amunisi BI yang solid, yakni cadangan devisa setara enam bulan impor, jauh dari standar internasional kecukupan penguatan eksternal selama tiga bulan impor.

"Intinya langkah dilakukan ada intervensi baik itu secara global melalui NDF maupun DNDF, dan melalui spot market," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea pada acara yang sama.

(ras/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kurs Dolar AS Capai Rp 16.685, Bos BI Klaim Rupiah Stabil


Most Popular
Features