MARKET DATA

BI, Kemenkeu, Ekonom Duduk Bareng Bahas Kondisi Rupiah, Ini Hasilnya!

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
14 April 2026 07:05
Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah memasuki titik keseimbangan baru, setelah mengalami tekanan hingga menembus level Rp 17.000/US$ sejak 1 April 2026.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada 1 April kurs rupiah diperdagangkan antar bank rata-rata di level Rp 17.002. Sejak saat, Jisdor tak mencatat mata uang garuda mampu bergerak di level bawah Rp 17.000, bahkan terus bergerak naik hingga Rp 17.122/US$ pada 13 April 2026.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, pergerakan kurs beberapa hari terakhir tak terlepas dari efek peperangan di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat nilai tukar dolar terhadap berbagai mata uang dunia menguat, tak terkecuali rupiah.

Konflik itu memunculkan sentimen risk off atau menghindari faktor risiko di tengah investor global, sehingga mereka melepas investasinya di instrumen portofolio negara-negara berkembang, termasuk Indonesia untuk membeli surat berharga AS beserta dolar. Akibatnya indeks dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia (DXY) menguat.

"Terjadi risk off. Artinya investor menjauhi risiko sehingga ada safe haven activity. Mau enggak mau flow ke advance economies termasuk ke AS. DXY mengalami peningkatan," kata Destry dalam Central Banking Forum 2026 dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Saat pembukaan perdagangan pasar keuangan di Indonesia kemarin, dan rupiah langsung tertekan ke level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09% dibanding perdagangan akhir pekan lalu, DXY memang tengah mengalami penguatan hebat, hingga ke level 99,01 berdasarkan data Revinitif pukul 09.00 WIB. DXY terpantau menguat 0,37% saat itu.

Akibatnya, bukan hanya rupiah yang tertekan melawan dolar AS. Sejumlah mata uang negara-negara berkembang yang memiliki kapasitas ekonomi setara Indonesia juga mengalami pelemahan mata uang, bahkan lebih buruk dibanding Indonesia.

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fsikal (DJSEF) Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad menegaskan, volatilitas rupiah yang lebih baik ini disebabkan fundamental makro ekonomi Indonesia yang memang kuat.

Terlihat dari purchasing managers index (PMI) manufaktur yang masih di level ekspansi 50,1 pada Maret 2026, hingga pertumbuhan kredit yang masih mencapai kisaran 9,37% secara tahunan atau year on year.

"Jadi tekanan RI masih moderat dibandingkan peers. Depresiasi rupiah masih terkendali," kata Faisal dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75. Adapun 7 negara lain seperti India rupee angka indeksnya di level 8,92, Filipina peso 10,55, Thailand bath 12,40, Meksiko peso 13,20, Brazil real 13,69, Argentina peso 14,50, dan Afrika Selatan rand 16,34.

Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah betah di level Rp 17.100 per dolar AS. BI mencatat, depresiasi hingga pekan dari sejak awal tahun hanya 2,91%, sedangkan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.

"Jadi Indonesia kuat dibanding peers, inflasi terkendali, fiskal prudent, kita jaga defisit prudent. Rasio utang di bawah batas 60%," tutur Faisal.

Suasana acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Suasana acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan menambahkan, masih terkendalinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS itu juga tak terlepas dari masih terjaga ya fundamental rupiah itu sendiri.

Fundamental kurs itu seperti defisit transaksi berjalan yang masih di kisaran 0,69%. "Ini masih dalam batas toleransi kita," ucap Erwin. Lalu, tekanan inflasi yang masih berada di kisaran target BI sepanjang tahun ini, 2,5% plus minus 1%, yakni 3,48% angka terakhir yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026.

Ketiga, ialah cadangan devisa yang kini masih di kisaran US$ 148,2 miliar. Besaran ini di atas standar global untuk memenuhi kewajiban 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Jadi dari tiga itu rupiah fundamentalnya baik-baik saja, meski kita bukannya imun terhadap gejolak global," tegasnya.

Oleh sebab itu, Erwin percaya diri, rupiah trennya malah akan menguat dalam jangka menengah panjang, karena tekanan kurs sejauh ini masih terkait dengan faktor risiko di eksternal, yakni perkembangan dinamika perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

"Sehingga dalam jangka menengah panjang rupiah punya harapan tren menguat. Kita harus sabar melihat konflik," tutur Erwin.

Pernyataan ini pun diamini oleh Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual. "Saya cuma mau menunjukkan dari sisi fundamental strength rupiah cukup baik. Biasanya ekonom menghitungnya relative strength dibanding mata uang lain - membaik," katanya, dalam Central Banking Forum 2026.

David pun menuturkan Indonesia memang melakukan impor yang cukup besar hingga memerlukan pasokan dolar yang berlimpah. Namun, David mengingatkan impor yang dilakukan oleh Indonesia kecenderungannya untuk mendorong ekspor.

Kemudian, inflasi Indonesia masih terkendali. Inflasi di dalam negeri, menurut David, relatif rendah. Meskipun melonjak pada Februari dan Maret, tetapi perlahan mulai menurun. Oleh karena itu, dia memastikan rupiah layak menguat, namun David mengakui pelemahan rupiah saat lebih dipengaruhi oleh investor jangka pendek yang keluar dari pasar aset portofolio.

"Pergerakan rupiah dominan memang relatif lebih digerakkan oleh investor portofolio," paparnya.

Oleh sebab itu, untuk menghadapi masalah sentimen investor jangka pendek yang sampai membuat rupiah tertekan, David menekankan, otoritas moneter dan fiskal harus mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap mereka dan menggantikannya dengan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI).

"Bagaimana kita menarik investasi langsung itu adalah kunci, supaya kita tidak bergantung terus pada dana hot money," ungkapnya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menganggap, FDI pada akhirnya juga akan mampu menjaga aktivitas ekonomi riil terus berputar di tengah tingginya faktor risiko global. Aktivitas ekonomi riil yang berputar menandakan keberhasilan pemerintah dalam menjaga penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.

"Pada 2020 saat COVID, kuat riilnya. Tapi setelah COVID, pelemahan signifikan di sektor riil, ini yang harus kita balikkan," terangnya.

Terlepas dari itu, BI memastikan, terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS, mulai dari pasar spot, non delivery forward (NDF), hingga domestic non delivery forward (DNDF).

Bahkan, langkah kebijakan intervensi kini dalam tahap stand by 24 jam. Artinya, BI sewaktu-waktu bisa mengambil langkah-langkah terukur untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di berbagai negara.

Dalam menjaga nilai tukar dan pasar keuangan dalam negeri, BI turut memanfaatkan skema layer of defense, termasuk cadangan devisa. BI pun memiliki swap agreement untuk mendukung cadangan devisa dengan berbagai bank sentral negara lain. 'Amunisi' ini bisa digunakan kapan saja.

Sebagai catatan, Indonesia telah memiliki kerja sama bilateral swap arrangement dengan sejumlah negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Kerja sama ini dituangkan dalam Chiang Mai Initiative dan selain itu, ada pula skema multilateral dengan negara-negara ASEAN.

"Belajar dari krisis 1998, bank sentral belajar dengan safety net jadi kita punya arrangement bersifat regional dan global. Layer of defense ready dan dalam jumlah yang memadai. Sekarang bagaimana jika berkepanjangan, kita tentunya berharap hope for the best," tegas Erwin.

Kendati memiliki layer of defense yang kuat, BI juga mendorong pengusaha untuk melakukan hedging atau lindung nilai. Lindung nilai ini digunakan untuk mengunci paparan (exposure) terhadap tekanan terhadap rupiah.

Dengan hedging yang terukur, maka pengusaha tidak perlu langsung datang ke pasar spot untuk membeli dolar. BI pun meminta pengusaha membeli instrumen hedging yang sudah disediakan perbankan. Langkah ini membantu distribusi dolar.

Simak tayangan lengkapnya hari ini pukul di 12.00 WIB di sini!

(arj/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pede Rupiah Bakal Terus Menguat, BI Kasih Jaminan!


Most Popular
Features