Jangan Panik Warga RI, Kekuatan Fundamental Rupiah Baik!

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 14:30 WIB
Foto: Chief Economist BCA, David Sumual memberi pemaparan dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona merah pada level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.


Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual menilai kendati melemah, secara fundamental rupiah cukup baik. Bahkan jika dibandingkan dengan mata uang lain, kekuatan nilai tukar Garuda membaik.

"Saya cuma mau menunjukkan dari sisi fundamental strength rupiah cukup baik. Biasanya ekonom menghitungnya relative strength dibanding mata uang lain - membaik," katanya, dalam Central Banking Forum 2026 dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (13/4/2026).

David pun menuturkan Indonesia memang melakukan impor yang cukup besar. Impor yang besar memang memerlukan pasokan dolar yang berlimpah. Namun, David mengingatkan impor yang dilakukan oleh Indonesia mendorong ekspor.

Kemudian, inflasi Indonesia masih terkendali. Inflasi di dalam negeri, menurut David, relatif rendah. Meskipun melonjak pada Februari dan Maret, tetapi perlahan mulai menurun.

Oleh karena itu, dia memastikan rupiah layak menguat. Adapun, David melihat pelemahan rupiah saat lebih dipengaruhi oleh investor jangka pendek.

"Pergerakan rupiah dominan memang relatif lebih digerakkan oleh investor portofolio," paparnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan menjelaskan, ada tiga indikator yang menandakan potensi penguatan rupiah ke depan. Tiga indikator ini ia sebut merupakan ukuran fundamental mata uang garuda.

"Dari tiga indikator fundamental yang kita assess dan amati, rupiah itu kondisinya baik," kata Erwin dalam kesempatan yang sama.

Faktor fundamental pertama yang menunjukkan rupiah sebetulnya dalam kondisi sehat ialah defisit transaksi berjalan yang masih di kisaran 0,69%. "Ini masih dalam batas toleransi kita," ucap Erwin.

Kedua, ialah tekanan inflasi yang masih berada di kisaran target BI sepanjang tahun ini, 2,5% plus minus 1%, yakni 3,48% angka terakhir yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026.

Ketiga, ialah cadangan devisa yang kini masih di kisaran US$ 148,2 miliar. Besaran ini di atas standar global untuk memenuhi kewajiban 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Jadi dari tiga itu rupiah fundamentalnya baik-baik saja, meski kita bukannya imun terhadap gejolak global," tegasnya.

Erwin mengatakan, tekanan kurs sejauh ini masih terkait dengan faktor risiko di eksternal, yakni perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran bukan masalah fundamental.

"Sehingga dalam jangka menengah panjang rupiah punya harapan tren menguat. Kita harus sabar melihat konflik," tutur Erwin.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cadev Tergerus, Tapi Rupiah Masih Melemah di Rp17.000/Dolar AS