Perang Iran dan AS-Israel Bikin Dolar Perkasa, Ini Penjelasan BI

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 10:52 WIB
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peperangan di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat nilai tukar dolar terhadap berbagai mata uang dunia menguat, tak terkecuali rupiah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, kondisi ini disebabkan dampak tak langsung konflik itu ke pasar keuangan global, yang membuat tingginya sentimen risiko hingga mengangkat indes dolar AS (DXY).

"Terjadi risk off. Artinya investor menjauhi risiko sehingga ada safe haven activity. Mau enggak mau flow ke advance economies termasuk ke AS.DXY mengalami peningkatan," kata Destry dalam Central Banking Forum 2026 dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (14/4/2026).


Destry mengatakan, sentimen risiko yang membuat para pelaku pasar keuangan untuk melarikan modalnya ke negara-negara maju, termasuk dolar AS dari negara-negara berkembang tentu membuat kurs non dolar menguat.

"Jadi flow ke emerging market terjadi, enggak hanya di Indonesia yang juga berkurang, meskipun Indonesia merasakan walaupun ada inflow di SBN, saham sedikit, dan SRBI. Tapi outflow Rp 21 triliun overall," tegas Destry.

Sebagai informasi, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,37% ke level 99,010.


Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona merah pada level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.

"Jadi adanya kenaikan yield di berbagai negara. Yield di AS 4,5-4,6%. Ada risiko ketidakpastian global. DXY naik, yield naik, tekanan mata uang meningkat," papar Destry.

(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Usai Pesta, IHSG Anjlok Lagi & Rupiah Terjebak di Rp 17.000/USD