MARKET DATA

Intip Prospek Emiten EBT di Tengah Dinamika Indeks Global

dpu,  CNBC Indonesia
13 April 2026 08:10
Pasar Saham. (Dok. Pixabay)
Foto: Pasar Saham. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten energi baru terbarukan (EBT) diperkirakan masih berpeluang bersinar di tengah dinamika indeks global. Meski sempat merosot pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), saham perusahaan EBT diyakini bisa bangkit kembali tahun ini.

Hal ini bukan tanpa alasan, Pasalnya penguatan saham EBT dinilai bakal ditopang oleh target bauran energi, komitmen dekarbonisasi, dan dukungan investasi strategis.

Terlebih penyedia indeks global FTSE Russell telah mengumumkan status pasar modal Indonesia yang berada di level secondary emerging market atau tidak masuk dalam daftar pantauan (Watch List) untuk penurunan status.

Keputusan ini menjadi bukti kredibilitas reformasi pasar modal Indonesia dan memberikan fondasi kuat di tengah sentimen negatif terkait indeks MSCI. Meskipun pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) oleh BEI baru-baru ini memicu spekulasi mengenai tekanan jual pada emiten raksasa seperti BREN dan DSSA, dan sempat merosot. Reaksi tersebut dinilai 'knee-jerk reaction' psikologis yang mengabaikan mekanisme pasar yang asli.

"Keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan secara eksplisit tidak memasukkannya ke Watch List, adalah sinyal validasi yang seharusnya menjadi penyeimbang utama di tengah spekulasi seputar MSCI. Dua lembaga indeks global mengevaluasi pasar yang sama, dan salah satunya memberikan penilaian yang tegas positif," tulis Laporan Strategic Note Henan Sekuritas dikutip Minggu (12/4/2026).

Tidak heran jika keyakinan investor global dan domestik juga masih sangat besar. Manajer aset terbesar dunia, BlackRock, bahkan tercatat terus mengakumulasi kepemilikan di BREN (meningkat 176x sejak Q1 2024), menunjukkan conviction buying pada sektor energi terbarukan masih sangat tinggi.

Bahkan institusi domestik dengan AUM besar siap menyerap likuiditas sebagai counterparty natural.

Selain itu Volume Weighted Average Price (VWAP) 6 bulan BREN juga bergerak di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.100 dengan lebih dari 3 miliar jumlah lembar saham yang ditransaksikan.

"Dalam konteks BREN, risiko likuiditas yang beredar di publik jauh lebih besar dari realitasnya: data VWAP enam bulan menunjukkan harga rata-rata bergerak di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.100 dengan lebih dari tiga miliar lembar saham yang ditransaksikan, ini adalah basis akumulasi yang solid," riset Henan Sekuritas menambahkan.

Dengan begitu, dinamika indeks diyakini tidak memengaruhi mesin pertumbuhan operasional perusahaan. BREN akan tetap konsisten menuju kapasitas 1 GW melalui kontrak PPA jangka panjang yang stabil, hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Dalam konteks ini, volatilitas yang dipicu sentimen jangka pendek cenderung bersifat sementara, sedangkan nilai intrinsik akan tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental jangka Panjang," tutup laporan riset Henan Sekuritas.

(bul/bul) [Gambas:Video CNBC]
Next Article OJK Siapkan Aturan Baru Free Float, Respons Evaluasi MSCI


Most Popular
Features