MARKET DATA

Rupiah Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik Jadi Rp17.085

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
10 April 2026 15:13
Suasan penukaran uang di di VIP Money Changer, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2025). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)
Foto: Suasan penukaran uang di di VIP Money Changer, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2025). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.085/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,03%.

Padahal, pada awal perdagangan pagi tadi, rupiah sempat dibuka menguat 0,09% ke level Rp17.065/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan rupiah berbalik melemah hingga akhir perdagangan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat menguat sebesar 0,32% ke level 98,819.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap greenback pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Analis mata uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, dari eksternal pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Rencana kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran dan Israel menjadi sentimen kunci dalam waktu dekat.

"Hari ini ada perjanjian akan ditandatangani di Pakistan antara Amerika dengan Iran dan Israel tentang gencatan senjata selama 2 minggu. Nah, apakah ini berhasil atau tidak tergantung dari ini. Kalau seandainya berhasil, ada penandatanganan selama 2 minggu, ya kemungkinan besar rupiah akan mengalami penguatan," ujar Ibrahim kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (10/4/2026).

Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia periode Maret 2026.

Hasilnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat mengalami penurunan ke level 122,9 dari sebelumnya sebesar 125,2. Meski turun, kondisi IKK saat ini masih berada di zona optimistis karena tetap berada di atas 100.

Kuatnya keyakinan konsumen ini ditopang oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi untuk enam bulan ke depan.

"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan

Konsumen (IKK) Maret 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 122,9," tulis Bank Indonesia dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Selain itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga sama-sama bertahan di level optimistis, masing-masing sebesar 115,4 dan 130,4. Kondisi ini menunjukkan rumah tangga masih cukup percaya diri terhadap kondisi ekonomi nasional, meski pasar keuangan global sedang dibayangi ketidakpastian.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Cara Habibie Menaklukan Dolar AS dari Rp 16.000 Jadi Rp 6.550


Most Popular
Features