Saham IPO dari Rp200 Jadi Rp 8.000, DPR Curiga Ada Manipulasi Harga

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 14:30 WIB
Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Anggota DPR RI soroti pergerakan tinggi harga satu saham yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melchias Marcus Mekeng, Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, menyinggung perusahaan tersebut baru go public melalui initial public offering (IPO) dengan harga sekitar Rp200 per dan sempat melambung menjadi Rp8.000 per saham dalam waktu sekitar dua bulan.

Hal itu ia utarakan saat Rapat Kerja dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan agenda Program Kerja OJK. Hadir dalam rapat tujuh Anggota Dewan Komisioner (ADK) yang baru dilantik, termasuk Friderica Widyasari Dewai sebagai Ketua Dewan Komisioner.

"Nah ini saya mau tanya, pasti bapak-bapak dan ibu-ibu di OJK sudah tahu. Perusahaan ini siapa itu? Nah ini perusahaan ini bagaimana, ini nggak masuk akal," kata Melchias di Gedung DPR RI, Rabu (1/4/2026).


Melchias melanjutkan bahwa valuasi perusahaan yang di luar batas normal sangat berbahaya. Terlebih bila saham yang naik tak wajar dijadikan jaminan untuk meminjam uang di bank. "Nah ini kan udah double jadinya. Di pasar modal dibobol, di perbankan dia bobol," jelasnya.

Melchias lantas menanyakan apakah di OJK terdapat bagian atau mekanisme yang mengawasi permasalahan ini. Ia mewanti-wanti agar otoritas tidak mendapatkan laporan ketika "barang itu sudah hancur."

"Nah itu ada nggak? Ada dashboard yang bisa melihat bahwa ini aneh perusahaan. Kok harganya bisa di atas? Nah itu bagaimana itu perusahaan? Perusahaan itu sudah disidik atau belum? Karena ini pidana, masuk ke dalam ranah pidana karena kebohongan publik. Nah OJK harus tegas di sini, dan kalau sudah melakukan tindakan, harus diumumkan supaya pasar itu percaya bahwa ada kepastian hukum yang dilakukan oleh OJK," tegas Melchias.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa bukan hanya satu saham itu saja, terdapat banyak saham juga yang melakukan praktik manipulasi. Melchias menilai hal ini menjadi pertimbangan MSCI menilai pasar modal RI rapuh.

Adapun Melchias tidak menyebut secara spesifik saham yang dimaksud. Akan tetapi salah satu saham yang belum lama ini melantai di Bursa Efek Indonesia dan langsung melesat adalah Abadi Lestari Indonesia (RLCO). 

RLCO tercatat di bursa pada 8 Desember 2026 dengan harga penawaran Rp 168. Setelah IPO, saham RLCO berulang kali naik hingga menyentuh auto reject atas (ARA).

Pada 20 Januari 2026, harga saham RLCO menyentuh level penutupan 8.700. Artinya tidak sampai dua bulan, saham RLCO terbang 5.078,57%. 


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Peluang & Tantangan Asuransi Kerek Investasi di Saham