Nilai Tukar Rupiah Makin Dekati Rp17.000/US$

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 31/03/2026 15:11 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di posisi Rp16.990/US$ atau melemah tipis 0,03%. Meski masih mampu bertahan di bawah level psikologis Rp17.000/US$, posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Padahal, rupiah sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, mata uang Garuda berbalik melemah dan sepanjang sesi bergerak di kisaran Rp16.980-Rp16.998/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,05% ke posisi 100,457. Meski terkoreksi, posisi DXY masih terbilang tinggi dan tetap mencerminkan kuatnya dolar AS secara global, setelah sebelumnya kembali menembus level psikologis 100.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini masih dibayangi faktor eksternal, terutama memanasnya perang AS-Israel melawan Iran yang terus mendorong lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja indeks dolar AS yang mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret. DXY bahkan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025, dengan apresiasi sekitar 2,9% sepanjang bulan ini. Hal itu menunjukkan permintaan terhadap dolar AS masih sangat kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Tekanan pasar juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin memperingatkan bahwa Washington akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menilai proposal damai AS tidak realistis dan kembali meluncurkan rudal ke Israel.

Sentimen negatif bertambah setelah muncul laporan bahwa sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang tengah berlabuh di Dubai terkena serangan Iran. Insiden ini semakin memicu kenaikan harga minyak dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebenarnya telah meredam spekulasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menegaskan bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see dan menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga.

Pernyataan tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek. Namun, hal itu belum cukup untuk melemahkan dolar, karena mata uang AS tersebut tetap diburu sebagai aset aman ketika prospek pertumbuhan ekonomi global memburuk.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Risiko Perang Meluas, Pelemahan IHSG & Rupiah Kembali Berlanjut