Rupiah Loyo Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Naik ke Rp 16.960

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Jumat, 27/03/2026 15:04 WIB
Foto: Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (27/3/2026). Seiring penguatan dolar AS di pasar global. 

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,38% ke level Rp16.960/US$. Pergerakan ini berbalik dari perdagangan sebelumnya, Kamis (26/3/2026), saat rupiah masih mampu ditutup menguat tipis 0,06% di level Rp16.895/US$.

Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pagi hari, rupiah dibuka melemah 0,09% ke posisi Rp16.910/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat tipis 0,07% ke level 99,971.

Pelemahan rupiah menjelang akhir pekan ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.

Dari pasar global, dolar AS kembali menguat setelah harapan meredanya konflik di Timur Tengah mulai memudar. Pelaku pasar menilai peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih kecil, sehingga kekhawatiran terhadap perang yang lebih panjang kembali meningkat. Kondisi ini membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman.

Kekhawatiran pasar juga bertambah karena Selat Hormuz masih berisiko terganggu. Jika jalur ini tetap terhambat, pasokan energi global bisa semakin tertekan dan memicu lonjakan harga minyak. Risiko tersebut pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan ikut menopang penguatan dolar AS.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tetap tumbuh positif, meski melambat. Posisi M2 tercatat sebesar Rp10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7% secara tahunan, setelah pada Januari 2026 tumbuh 10,0%.

"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4% (yoy) dan uang kuasi sebesar 3,1% (yoy)," kata Ramdan, Jumat (27/3/2026).

Menurut Denny, perkembangan M2 pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 25,6% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 22,6% (yoy).

Penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,9% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan Januari 2026 sebesar 10,2% (yoy).


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Defisit APBN Januari 2026 Rp 54,6 Triliun hingga IHSG Ambles