Bursa Asia Ambruk Berjamaah, Investor Khawatir Konflik Timur Tengah

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Jumat, 27/03/2026 08:40 WIB
Foto: REUTERS/Androniki Christodoulou

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas pasar saham Asia-Pasifik melemah pada perdagangan Jumat, (27/3/2026) menyusul pergerakan volatil di Wall Street semalam, di tengah ketidakpastian pesan terkait konflik Timur Tengah antara Donald Trump dan Iran.

Melansir CNBC.com, Trump memutuskan memperpanjang batas waktu serangan tersebut selama 10 hari hingga 6 April guna memberikan ruang bagi negosiasi. Keputusan ini disebut diambil atas permintaan pemerintah Republik Islam Iran sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.


Trump menyatakan perpanjangan itu diberikan sebagai imbalan atas 10 kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz sebagai "hadiah" dari Teheran. Ia juga menegaskan melalui unggahan di Truth Social bahwa penundaan ini bertujuan membuka peluang penyelesaian diplomatik.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan pembicaraan masih berlangsung dan berjalan sangat baik meski terdapat laporan berbeda dari media. Namun demikian, Washington menyatakan ingin mengakhiri konflik melalui jalur negosiasi, sementara Teheran membantah adanya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat.

Harga minyak sempat menguat pada Kamis sebelum akhirnya menunjukkan pelemahan seiring indikasi kemajuan menuju kesepakatan damai AS-Iran. Kontrak West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun 1,3% ke US$93,29 per barel, sedangkan Brent crude oil ditutup di level US$108,01 per barel.

Dari kawasan Asia, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,42% pada awal perdagangan. Di Jepang, Nikkei 225 melemah 0,9% dan Topix terkoreksi 0,4%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 3% dan Kosdaq turun 1,5%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index berada di level 24.782, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 24.856,43.

Dari China, pelaku pasar menantikan rilis data laba industri untuk dua bulan pertama 2026 yang dapat memberikan gambaran awal kondisi sektor manufaktur. Data ini dinilai penting di tengah persaingan ketat dan lemahnya permintaan.

Sementara itu, bursa berjangka AS menguat seiring meredanya kekhawatiran lonjakan harga minyak. Kontrak futures Dow Jones Industrial Average naik 175 poin atau 0,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat hampir 0,4%.

Meski demikian, indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 1,7% menjadi penurunan harian terbesar sejak awal 2026, Nasdaq Composite jatuh 2,4% dan masuk ke wilayah koreksi, serta Dow Jones turun 1,01%.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sektor Pilihan MI Saat Fitch Rating Pangkas Prospek Utang RI