Transaksi Minyak Tiba-Tiba Ramai sebelum Gebrakan Terbaru Trump

Firda Dwi, CNBC Indonesia
Selasa, 24/03/2026 21:45 WIB
Foto: (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa komoditas global mencatat adanya lonjakan transaksi kontrak minyak mentah senilai ratusan US$ secara tiba-tiba. Pergerakan anomali tersebut terjadi hanya beberapa menit sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, yang langsung membuat harga minyak anjlok 14%.

Melansir BBC International, Partner Killik & Co Rachel Winter menyoroti kejanggalan waktu transaksi yang berpotensi melibatkan pemanfaatan informasi orang dalam atau insider trading. Ia mendesak otoritas pengawas keuangan untuk segera menggelar investigasi untuk memastikan keabsahan transaksi fantastis tersebut.


"Tepat sebelum ia mengunggah di media sosial, cukup banyak orang mengambil kontrak yang memungkinkan mereka mendapat untung dari penurunan harga minyak. Jadi ada beberapa spekulasi tentang perdagangan orang dalam. Kami tidak tahu apakah itu benar, tapi semoga akan ada semacam penyelidikan tentang hal itu," ujar Rachel dilansir BBC International, Selasa (24/3/2026).

Data pasar menunjukkan volume perdagangan melonjak sekitar 15 menit sebelum Trump mengunggah status di platform Truth Social pada Senin (23/3/2026) pukul 07.04 waktu setempat.

Sedangkan, pada pukul 06.49, tercatat 733 taruhan pada kontrak minyak WTI di New York Mercantile Exchange (Nymex), lalu semenit kemudian jumlahnya melompat tajam menjadi 2.007 kontrak atau setara US$ 170 juta.

Senada dengan itu, Kepala Analis Minyak XAnalysts Mukesh Sahdev menyebutkan lonjakan volume perdagangan dalam waktu yang sangat singkat tersebut merupakan kondisi yang sangat tidak wajar. Ia menilai penempatan dana dalam jumlah masif di tengah minimnya informasi publik adalah hal yang sangat mencurigakan.

"Pada saat itu, tidak ada indikasi bahwa pembicaraan serius telah terjadi antara AS dan Iran. Jadi untuk menempatkan begitu banyak uang pada penurunan minyak memunculkan pertanyaan," tegasnya.

Pola anomali serupa juga terpantau pada pergerakan kontrak minyak mentah Brent di pasar global. Volume perdagangan dilaporkan melesat dari 20 menjadi lebih dari 1.600 kontrak senilai US$ 150 juta hanya dalam tempo satu menit, padahal sehari sebelumnya pasar masih diselimuti ketegangan akibat ancaman militer Trump ke Iran.

Di lain sisi, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf turut angkat bicara dan membantah klaim adanya negosiasi damai dengan Washington. Ia menuding pernyataan sepihak tersebut sebagai kebohongan publik yang sengaja disebar untuk mempengaruhi kondisi pasar.

"Berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa tempat AS dan Israel terjebak," kata Ghalibaf melalui akun X-nya.

Bantahan tegas dari pemerintah Iran tersebut langsung direspons pasar dengan kembali merangkak naiknya bursa saham Asia pada hari Selasa.

Adapun, juru bicara Gedung Putih memastikan bahwa pemerintah AS tidak akan menoleransi pejabat mana pun yang terbukti mengambil keuntungan secara ilegal dari informasi orang dalam.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jika Harga Minyak Meroket ke USD 120/barel, Ini Efeknya ke RI