MARKET DATA

Studi Ungkap Kebiasaan yang Bikin Orang Susah Jadi Kaya

Redaksi,  CNBC Indonesia
20 March 2026 08:30
Ilustrasi Crazy Rich mengikuti pemilu. (Dok: Freepik)
Foto: Ilustrasi Crazy Rich mengikuti pemilu. (Dok: Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Keinginan untuk menjadi kaya dan mencapai kestabilan finansial masih menjadi impian banyak orang. Namun, realitas menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada di kelompok kelas menengah, bukan golongan kaya.

Kelompok kelas menengah ini dinilai memiliki pola perilaku keuangan tertentu yang membuat mereka sulit meningkatkan taraf ekonomi. Salah satu faktor utamanya adalah cara mengelola pengeluaran, yang sering kali harus dibagi antara kebutuhan utama dan gaya hidup.

Di satu sisi, mereka tetap mampu menikmati hal-hal seperti makan di luar atau berlibur. Namun di sisi lain, mereka juga berusaha menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung atau diinvestasikan, meskipun jumlahnya tidak selalu optimal.

CEO Pineapple Money, Zach Larsen menilai kondisi tersebut membuat kelas menengah berada dalam posisi dilematis, antara memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan menjaga kestabilan finansial jangka panjang.

"Banyak dari mereka berfokus pada rumah yang layak, kendaraan yang andal, dan pendidikan anak. Tabungan pensiun serta asuransi juga jadi prioritas," kata Zach, dikutip dari Yahoo Finance.

Sementara itu, laporan Business Insider menunjukkan bahwa mayoritas responden dari kelas menengah berencana menabung uang mereka jika mendapat pemasukan tambahan.

Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah cenderung memilih membayar utang, sementara kelompok kaya lebih suka menginvestasikannya.

Berikut ini tujuh pembelian khas kelas menengah yang jarang dilakukan orang kaya, seperti dikutip dari Yahoo Finance:

1. Cicilan

Banyak warga kelas menengah terbebani utang seperti cicilan rumah, kredit mobil, hingga pinjaman mahasiswa. Berbeda dari orang kaya yang menggunakan utang untuk membeli aset produktif seperti properti, kelas menengah kerap membeli barang konsumtif secara kredit.

"Kendaraan mahal, barang mewah, atau kebutuhan non-esensial sering kali dibeli dengan utang," kata pakar keuangan Jacquesdu Toit.

2. Gadget Terbaru

Kelas menengah kerap membeli produk bermerek non-luxury, misalnya gadget, pakaian, atau peralatan rumah tangga kelas menengah. "Kadang mereka terjebak keinginan untuk selalu mengikuti tren, meski harus berutang," kata Whaley.

3. Biaya Pendidikan

Investasi besar dalam pendidikan menjadi prioritas utama bagi kelas menengah, baik untuk sekolah swasta maupun perguruan tinggi. Menurut Rob Whaley dari Horizon Finance Group, pendidikan dianggap sebagai jalan untuk naik kelas sosial dan ekonomi.

Namun Toit mengingatkan, pendidikan juga bisa jadi jebakan jika jalurnya tidak sesuai minat atau prospek kerja. "Misalnya mengambil jurusan seni murni memang mengikuti passion, tapi belum tentu menjamin pendapatan stabil," katanya.

4. Properti di pinggir kota

Kepemilikan rumah adalah pengeluaran signifikan lainnya. CEO Sell Quick California, Marc Afzal menyebut kelas menengah umumnya membeli rumah di pinggiran kota demi ruang dan kenyamanan, berbeda dengan orang kaya yang punya banyak properti premium dan kalangan bawah yang lebih sering menyewa.

5. Mobil Mahal dengan Cicilan Panjang

Menurut money coach Mary Vallieu, banyak keluarga kelas menengah membeli mobil seharga Rp800 juta hingga Rp1 miliar dengan cicilan tujuh atau delapan tahun. Sementara kalangan kaya membeli mobil tunai dan kelompok miskin umumnya memakai mobil bekas atau hibah keluarga.

6. Paket Wisata

Alih-alih liburan eksklusif ala orang kaya, kelas menengah memilih paket wisata yang dianggap hemat tapi tetap memberikan pengalaman. Konser, acara hiburan, dan traveling juga menjadi pengeluaran rutin mereka.

7. Peralatan Dapur Mahal

Kelas menengah cenderung membeli versi lebih baik dari kebutuhan dasar - seperti HP mahal dan alat dapur premium. "Mereka tak selalu memilih barang terbaik, tapi tetap ingin fitur lebih," ujar Jake Claver dari Digital Ascension Group.

Meski kelas menengah mampu menikmati gaya hidup lebih nyaman, pakar menyarankan agar pengeluaran mereka tetap diarahkan untuk menciptakan keamanan finansial jangka panjang.

"Salah satu kunci membangun kekayaan adalah menyesuaikan belanja dengan nilai dan manfaat jangka panjang," kata Toit. Ia menekankan pentingnya investasi, membangun bisnis, dan otomatisasi pengelolaan keuangan.

"Tujuannya bukan sekadar punya penghasilan, tapi membangun gaya hidup berkelanjutan yang memungkinkan pertumbuhan tanpa tekanan keuangan berlebihan," imbuhnya.

(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kebiasaan Ini Bisa Bikin Warga RI Susah Saat Pensiun


Most Popular
Features