Dolar Rawan Tembus Rp17.000 Usai Lebaran, Ekonom Ungkap Faktornya

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Selasa, 17/03/2026 18:00 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi tekanan setelah libur lebaran 2026. Para ekonom menilai, ketidakpastian global seperti konflik Timur Tengah hingga arah kebijakan suku bunga AS, menjadi faktor utama yang harus diwaspadai.

Global Markets Economist at Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai posisi rupiah saat ini cukup rentan terutama jika tensi geopolitik kembali meningkat. Dirinya menyoroti meningkatnya ketegangan, termasuk uji coba rudal balistik Iran yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia.


"Jadi hingga sepekan ke depan, kami melihat untuk pergerakan nilai tukar rupiah, memang untuk kondisi saat ini cukup rawan untuk break ke level 17.000, itu jika terjadi tensi geopolitik yang meningkat," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/3/2026).

Namun, rupiah berpeluang akan tetap stabil jika ketegangan mereda dan harga minyak turun selama periode libur. Seperti yang diketahui, Bank Indonesia libur operasional selama periode lebaran mulai dari 18 Maret hingga 24 Maret 2026.

"Jadi kita harapkan BI kalaupun periode liburan, tentu harus antisipatif juga terhadap potensi market dari offshore," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menilai pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan. Pasalnya, selama periode libur akan ada rilis hasil rapat komite bank sentral AS, The Federal Reserve atau Federal Open Market Committee (FOMC).

"Sehingga kemungkinan tekanan akan baru terealisasikan ketika market kembali buka nanti pasca libur panjang Lebaran," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/3/2026).

Faisal menjelaskan, level rupiah 17.000/US$ yang bersifat sementara akan sangat bergantung pada perkembangan global. Terutama hasil rapat FOMC dan sikap The Fed ke depannya.

"Jika perang berlangsung lama sehingga memberikan tekanan pada inflasi dan kondisi fiskal, dan the fed juga shifting ke hawkish stance maka mungkin saja level tersebut akan bertahan lama hingga kondisi global membaik," ujarnya.

Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga pergerakan kurs rupiah selama libur Lebaran.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, meskipun pasar keuangan domestik tutup selama periode libur Lebaran 2026, namun di luar negeri mata uang rupiah masih terus diperdagangkan, sehingga gejolaknya masih harus dipantau 24 jam.

"Memang pasar domestik kan tutup, tapi pasar di luar itu tidak tutup. Nah ini yang kami terus berjaga-jaga, 24 jam kami terus memantau pasar untuk dolar, untuk rupiah dolar, yang dalam hal ini kita lihat melalui pasar NDF," kata Destry saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Destry menegaskan, kewaspadaan terhadap pergerakan transaksi kurs menjadi penting karena konflik di Timur Tengah itu terbukti telah membuat ketidakpastian pasar keuangan global makin memburuk, ditandai dengan aliran modal asing yang tercatat terus keluar dari pasar negara berkembang.

Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflows sebesar US$ 1,1 miliar dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah. Berbalik arah dari aliran modal dan finansial pada Januari-Februari 2026 yang secara kumulatif net inflows US$ 1,6 miliar.

Aliran modal asing yang keluar atau outflow ini turut menjadi salah satu pemicu utama terpuruknya pergerakan mata uang menghadapi dolar AS.

"Dengan premium risk yang makin meningkat karena adanya ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka untuk emerging market sebagai gambaran sekarang ini emerging market itu semua mata uang itu terpuruk," papar Destry.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah & IHSG Terkoreksi Dalam, Alarm Pasar Modal RI Menyala?