Rupiah Melemah, Pengusaha CPO & Batu Bara CS Sangat Diuntungkan

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Senin, 16/03/2026 19:20 WIB
Foto: Indonesia Eximbank

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berada dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan pagi ini rupiah terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp16.940/US$.

Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya, Jumat (13/3/2026), saat rupiah ditutup melemah sekitar 0,30% ke posisi Rp16.935/US$.


Chairman & Executive Director Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Sukatmo Padmosukarso menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global. Hal ini terutama berlaku bagi komoditas yang berbahan baku lokal.

"Terutama kalau ekspor komoditas, CPO, dan kemudian batu bara itu tentu akan sangat diuntungkan dengan pelemahan rupiah," ujar Sukatmo dalam acara Power Lunch CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).

Selain komoditas tambang dan perkebunan, peluang juga terbuka bagi sektor manufaktur berorientasi ekspor. Seperti tekstil, garmen, hingga alas kaki.

Di sisi lain, tren suku bunga yang lebih rendah turut menurunkan biaya produksi dan membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas kapasitas.

Seperti yang diketahui, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2025 hingga September. Penurunan terakhir terjadi pada September 2025 sebesar 25 bps menjadi 4,75%

"Suku bunga rendah ini juga berdampak pada cost of production yang lebih murah. Juga implikasi adanya investasi yang sebenarnya lebih efisien. Jadi dengan adanya suku bunga yang menurun dalam beberapa tahun terakhir ini, itu memberikan peluang kepada eksportir yang ingin mengembangkan kapasitasnya," ujarnya.


(mij/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tips Bagi Gen Z Yang Mau Raup Cuan di Perdagangan Berjangka