Dunia Makin Suram, Robert Kiyosaki Sebut Tiga Aset Ini
Jakarta, CNBC Indonesia — Kondisi geopolitik global membuat perekonomian diliputi ketidakpastian. Gejolak yang terjadi bukan hanya berdampak pada negara berkonflik melainkan merambat pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada masa krisis atau perekonomian yang tidak pasti, Anda harus menyiapkan strategi keuangan yang tepat. Ternyata ada tiga aset penting yang bisa menjadi pegangan dalam menghadapi 'kiamat' finansial.
Investor terkenal sekaligus penulis buku keuangan terlaris Rich Dad Poor Dad yakni Robert Kiyosaki, memperingatkan akan segera terjadi keruntuhan pasar dan kemungkinan depresi hebat berikutnya.
Kiyosaki menekankan bahwa membeli emas, perak, dan Bitcoin (BTC) adalah pertahanan terbaik terhadap potensi keruntuhan.
Ia menunjuk pada apa yang dia sebut sebagai "3 antek" yakni yang menjalankan Gedung Putih (Presiden AS), Departemen Keuangan AS, dan Federal Reserve sebagai indikator krisis yang akan datang.
"[Karena] Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan Fed, kemungkinan depresi hebat berikutnya [terjadi]. Mungkin perang. Bagi jutaan orang, masa-masa sulit akan segera tiba," kata dia, dikutip Jumat (13/3/2026).
Gejolak geopolitik biasanya dapat menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga emas. Namun, kekhawatiran baru mengenai inflasi kembali membuat investor gelisah.
"Bagi mereka yang memiliki pola pikir yang benar dan siap, Depresi Hebat berikutnya akan menjadi saat terbaik dalam hidup mereka. Mohon bersiap. Jaga diri kamu. Beli emas, perak, Bitcoin," tambah Kiyosaki.
Adapun meski reli emas sempat terhenti, sejumlah bank masih tetap optimistis terhadap prospek harga emas.
Harga emas sempat melonjak selama perang 12 hari dengan Iran tahun lalu, sebelum akhirnya kembali melepas kenaikannya setelah gencatan senjata diumumkan. Namun kini, dua minggu setelah konflik terbaru dimulai, harga emas masih relatif tidak bergerak signifikan.
Emas naik dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ons setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Pergerakan ini sejalan dengan pandangan umum bahwa gejolak geopolitik biasanya mendorong investor beralih ke aset safe haven tradisional.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS memang sempat memberikan narasi bagi Bitcoin sebagai alternatif safe haven darurat, yang mendorong arus modal masuk secara signifikan dari wilayah regional terdampak pada pekan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan proyeksi bahwa ketidakpastian memicu aksi pembelian instan ke instrumen tersebut.
Namun, efek dari sentimen geopolitik nampaknya hanya bersifat temporal. Seiring dengan berjalannya waktu, pasar secara efisien telah memperhitungkan risiko tersebut ke dalam valuasi harga saat ini.
Oleh karena itu, ketegangan lanjutan di Timur Tengah kemungkinan tidak akan lagi memberikan dorongan harga sekuat sebelumnya, kecuali terjadi eskalasi fundamental yang secara langsung melumpuhkan infrastruktur perbankan global.
Selain itu, Kiyosaki juga merupakan kritikus yang lantang terhadap kebijaksanaan keuangan konvensional dan pendukung pendidikan keuangan untuk mencapai kekayaan dan kesuksesan.
Peringatan dan nasihat terbarunya dalam menghadapi potensi tantangan Depresi Hebat serupa dengan pandangan sebelumnya mengenai intelijen finansial dan investasi strategis, di mana ia mengadvokasi tiga kelas aset.
Memang benar, Kiyosaki telah memperingatkan agar tidak mengumpulkan produk investasi tradisional, yang menurutnya merupakan aset yang dianggapnya tidak berharga. Hal ini mencakup uang kertas, saham, obligasi, reksa dana, dan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Ia menyatakan bahwa investasi inilah yang sering dilakukan oleh masyarakat miskin dan kelas menengah, yang bekerja dengan tekun pada pekerjaan yang memberikan penghasilan "palsu" yang dapat dikenai pajak, dan menjanjikan gaji yang konsisten, namun tidak memberikan jaminan kerja.
(mkh/mkh) Add
source on Google