MARKET DATA

Pengusaha Ini Mendadak Jadi Orang Terkaya Gegara Aluminium

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 March 2026 18:40
Profil Zhang Bo. (Dok. China Group limited)
Foto: Profil Zhang Bo. (Dok. China Group limited)

Jakarta,CNBC Indonesia- Harga aluminium dunia bergerak naik tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pasar logam industri kembali memanas ketika gangguan pasokan muncul dari kawasan Teluk Persia, wilayah yang memegang porsi penting dalam produksi global.

Trading Economics mencatat kontrak aluminium di Inggris naik hingga US$3.390 per ton pada Maret, level tertinggi hampir empat tahun. Kenaikan ini terjadi setelah produksi aluminium di sejumlah negara Teluk terganggu akibat konflik regional. Serangan Iran ke berbagai target di negara-negara GCC memicu penghentian aktivitas pemurnian aluminium di beberapa fasilitas industri.

Dampaknya segera terasa, Qatar menghentikan operasi aluminium yang dijalankan bersama perusahaan Norwegia, Norsk Hydro.

Di Bahrain, produsen aluminium terbesar negara itu, Aluminium Bahrain (Alba), mengumumkan force majeure dan menghentikan pengiriman logam untuk sementara waktu. Kawasan Teluk selama ini menyumbang sekitar10% pasokan aluminium primer dunia, sehingga gangguan produksi langsung memperketat pasar.

Stok aluminium di gudang bursa juga berada di level rendah. Persediaan di London Metal Exchange dan COMEX tercatat mendekati titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat setiap gangguan produksi memiliki efek cepat terhadap harga.

Di tengah situasi ini, perhatian pasar tertuju ke China. Negara tersebut merupakan produsen aluminium terbesar di dunia. Namun ekspansi produksi tahun ini terbatas. Pemerintah China menetapkan batas produksi sekitar45 juta ton untuk menahan kelebihan kapasitas di sektor industri logam.

Melansir dari Bloomberg yang dikutip oleh Business Times, situasi ini ikut mengangkat nama pengusaha aluminium China, Zhang Bo. Ia memimpin produsen aluminium raksasa China Hongqiao Group dan kini menjadi salah satu miliarder logam terbesar di Asia dengan kekayaan sekitar US$48 miliar atau sekitar Rp 809,04 triliun (US$1= Rp 16.855).

Nilai perusahaan tersebut melonjak sejak Zhang mengambil alih kepemimpinan pada 2019. Saham Hongqiao tercatat naik sekitar585%dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini memasok aluminium untuk sejumlah perusahaan teknologi besar China seperti Huawei,Xiaomi, serta produsen kendaraan listrik BYD.

Strategi Hongqiao bertumpu pada penguasaan rantai pasok bahan baku. Perusahaan tersebut mengembangkan tambang bauksit di Guinea sejak pertengahan 2010-an. Sumber bahan baku ini kemudian diproses di fasilitas alumina, termasuk pabrik yang dibangun di Indonesia.

Model produksi ini membuat biaya operasional perusahaan relatif rendah dibanding pesaing.Hongqiao juga memindahkan sebagian kapasitas smelter ke provinsi Yunnan untuk memanfaatkan listrik tenaga air yang lebih murah.

Perubahan struktur permintaan aluminium ikut memperkuat posisi produsen besar. Logam ini digunakan secara luas dalam industri kendaraan listrik, panel surya, dan turbin angin. Kebutuhan dari sektor energi baru meningkat seiring ekspansi proyek energi bersih di berbagai negara.

(mae) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Stok AS Melimpah, Harga Minyak Terkoreksi


Most Popular
Features