MARKET DATA

Breaking News! Rupiah Tertekan, Dolar AS Makin Dekati Rp17.000

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
09 March 2026 09:05
Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pertama pekan ini, Senin (9/3/2026), dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring menguatnya dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,47% ke posisi Rp16.980/US$. Setelah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (6/3/2026), rupiah juga ditutup melemah 0,15% di level Rp16.900/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tajam 0,68% ke level 99,655.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih dibayangi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global.

Indeks dolar AS terus menguat dan bergerak menuju level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan ini terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$100 per barel, di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu gangguan pasokan energi global dalam jangka lebih panjang.

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa investor kembali mengalihkan dana mereka ke aset berdenominasi dolar di tengah tingginya ketidakpastian global. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali berada dalam tekanan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai menyesuaikan ekspektasi inflasi sejak pecahnya konflik pada pekan lalu. Situasi ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga.

Pada saat yang sama, situasi geopolitik di Timur Tengah juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, sebagai penerus pemimpin tertinggi Iran. Langkah ini memberi sinyal bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali kuat di Teheran di tengah konflik dengan AS dan Israel.

Perkembangan tersebut semakin menambah kekhawatiran pasar. Terlebih, Presiden AS Donald Trump sebelumnya disebut menolak figur Mojtaba.

Dengan belum adanya tanda-tanda berakhirnya konflik di Timur Tengah, sementara kapal-kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan periode harga energi yang tetap tinggi dalam waktu lebih lama.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Melemah di Tengah Huru-Hara Global, Dolar ke Rp 16.620


Most Popular
Features