Dolar Tembus Rp16.910, Bos BI: Intevensi Tegas Dilakukan!

haa, CNBC Indonesia
Rabu, 04/03/2026 09:08 WIB
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali tertekan pada hari ini, Rabu (4/3/2026). Melansir Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di level Rp16.910/US$ atau melemah sebesar 0,36%.

Adapun, pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan kemarin, Selasa (3/3/2026), rupiah berhasil menutup hari dengan penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp16.850/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB, terpantau masih berada di zona hijau dengan kenaikan 0,15% ke level 99,200.

Destry Damayanti, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia menyatakan bahwa Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.

Destry mengatakan intervensi yang tegas dan konsisten akan terus BI lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 154,6 milyar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," kata Destry, dalam pernyataan resmi, Rabu (4/3/2026).

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini membuat ketidakpastian di pasar global meningkat tajam dan mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.

Di tengah kondisi tersebut, dolar AS kembali menguat karena masih dipandang sebagai aset safe haven. Minat investor terhadap dolar pun meningkat seiring pasar global bergerak ke mode risk-off.

Tekanan di pasar juga muncul setelah serangan Israel dan AS ke sejumlah target di Iran memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi dan gangguan pasokan energi.

Harga minyak dan gas global pun melonjak setelah perang AS-Israel dengan Iran menghambat ekspor energi dari Timur Tengah. Serangan Teheran terhadap kapal dan fasilitas energi juga mengganggu jalur pelayaran di kawasan Teluk serta memaksa penghentian produksi di sejumlah negara, mulai dari Qatar hingga Irak.

Kondisi ini pada akhirnya memperkuat permintaan terhadap dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara lain, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Defisit APBN Januari 2026 Rp 54,6 Triliun hingga IHSG Ambles