MARKET DATA

BI Sebut Bank Mulai Gencar Salurkan Kredit, Bunga Pinjaman Makin Turun

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
27 February 2026 17:05
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan di Indonesia kini mulai gencar untuk menyalurkan kredit, beriringan dengan suku bunga pinjaman yang sudah berangsur turun menyesuaikan penurunan suku bunga acuan BI Rate sejak September 2024.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, suku bunga pinjaman atau lending rate untuk kredit baru kini sudah mengalami penurunan hingga 88 basis points. Level itu kata dia menandakan bank sudah mulai bersiap menyalurkan pembiayaan secara besar-besaran.

"Sudah 88 basis point dia turunnya. Artinya bank sudah mulai siap sebenarnya, untuk lending appetite-nya bank sudah mulai tinggi," kata Destry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 46, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Destry mengatakan, kapasitas perbankan untuk semakin gencar menyalurkan kredit sebetulnya hingga kini memang masih sangat besar, karena likuditas di sistem keuangan teramat memadai.

"Secara industri cukup sehat, di mana kalau kita melihat rasio alat liquid perbankan ini sekarang mencapai 27,6%. Kemudian juga rasio capital adequacy kita, capital adequacy rasio kita yaitu 25,9%, dan ini jauh di atas threshold yang 8%," tegas Destry.

Saat level likuditas di perbakan masih sangat memadai, BI kata Destry juga menjaga stablitasnya melalui pemberian insentif kebijakan likuditas makroprudensial alias KLM. Insentif ini telah terkucurkan ke berbagai bank hingga kini senilai Rp 427,5 triliun.

"Dan dari Rp 427,5 triliun, yang tersalurkan untuk lending channel insentifnya adalah sekitar Rp 357,9 triliun, sementara interest channel Rp 69,6 triliun. Padahal interest channel itu baru kita perkenalkan mungkin 3 bulan, 2 bulan Jadi artinya memang time nya pas, karena bank pada saat 2 bulan terakhir mereka mulai itu menurunkan suku bunga," papar Destry.

Meski begitu, Destry mengakui, kecepatan bank untuk menurunkan suku bunga pinjaman masih perlu terus dipacu, mengingat suku bunga acua BI Rate telah turun sebanyak 150 basis points.

Di sisi lain, kemampuan bank untuk menyalurkan kredit juga perlu ditingkatkan, karena dari sisi permintaanya masih belum tinggi. Terlihat dari angka fasilitas kredit yang belum terpakai alias undisbursed loan perbankan masih mencapai Rp 2.506 triliun atau 22,65% dari platform kredit yang tersedia.

"Jadi ini angka cukup besar. Nah ini yang tentunya perlu kita dorong sehingga dia akan menjadi nanti sumber bagi pertumbuhan ekonomi," ungkap Destry.

(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos BI Ungkap Efek Rp200 T, Likuditas Longgar Tapi Bunga Bank Tinggi


Most Popular
Features