Breaking: IHSG Dalam Tekanan, Dibuka Turun 0,59%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi 48,95 poin atau 0,59% ke level 8.186,31 pada pembukaan perdagangan pagi ini, Jumat (27/2/2026).
Sebanyak 343 saham turun, 148 naik, dan 465 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 854,5 miliar, melibatkan 2,5 miliar saham dalam 120.800 kali transaksi.
Memasuki perdagangan Jumat ini, pergerakan pasar saham berpotensi bergerak cenderung sideways dengan potensi melemah. Ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung atau taking profit.
Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin juga membuat sinyal koreksi lanjutan kian terlihat. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, yakni pola kenaikan harga yang terjadi dalam rentang pergerakan yang makin menyempit. Kondisi ini kerap dibaca sebagai tanda penguatan yang mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah.
Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari kemarin, lalu perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang secara teori sering berakhir dengan penembusan ke bawah dan memicu koreksi lanjutan.
Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG setidaknya berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800, atau membuka ruang penurunan sekitar 4%.
Sementara itu, sentimen ekonomi global juga masih membayangi seiring dengan Amerika Serikat yang kembali mengetatkan pagar dagangnya.
Departemen Perdagangan AS atau U.S. Department of Commerce DOC pada Selasa mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas impor sel dan panel surya yang masuk ke AS dari Indonesia serta India dan juga Laos. Langkah ini diambil untuk melawan subsidi yang dinilai mendukung industri di ketiga negara ini.
Mengutip Reuters, Kamis (26/2/2026), DOC menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos.
Berdasarkan data perdagangan pemerintah AS, ketiga negara itu menyumbang nilai impor sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp75,73 triliun tahun lalu, atau sekitar dua pertiga dari total impor produk surya sepanjang 2025.
Selain tarif umum, DOC juga menghitung tarif individu bagi sejumlah perusahaan. Di India, Mundra Solar dikenakan 125,87%. Sementara dari Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%. Dari Laos, Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company masing masing dikenai 80,67%.
Dalam perkembangan lain, mediator Oman menyatakan perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Jenewa menghasilkan kemajuan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kemarin, Kamis (27/2/2026).
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengatakan kedua pihak telah menyelesaikan sesi diskusi intens dan berhasil membangun kerangka komunikasi yang lebih jelas, termasuk pertukaran ide yang disebut konstruktif untuk memecahkan kebuntuan nuklir yang telah berlangsung lama. Pembicaraan akan dilanjutkan ke tahap teknis di Wina dalam waktu dekat.
(mkh/mkh) Add
source on Google