Sidang Chromebook Nadiem Singgung Entitas Cayman, Bos GOTO Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - Entitas perusahaan di Kepulauan Cayman yang disebutkan berstatus sebagai salah satu pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pembahasan dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek.
Pada sidang atas terdakwa Mendikbudristek periode 2021-2024 Nadiem Anwar Makarim, dihadirkan beberapa saksi, di antaranya mantan CEO GoTo Andre Soelistyo, Co-founder dan CEO Gojek (2019-2022) Kevin Aluwi, Direktur Legal, Sekretaris Perusahaan GoTo R. A. Koesoemohadiani, dan Group Head of Finance and Accounting GoTo Adesty Usman.
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, Senin 23 Februari 2026, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roy Riyadi bertanya terkait dengan adanya perusahaan manajemen di Cayman Island.
"Di Akta Notaris 31 Tahun 2017, juga ada di SPV [special purpose vehicle], salah satu perusahaan manajemen di Cayman, benar ya?" Andre pun menjawab, "Itu fund Pak, Investor."
JPU pun bertanya soal kaitan skema pemberian saham GoTo kepada manajemen atau MESOP (management and employee stock option program) sebanyak 106,9 miliar saham GoTo yang dikelola oleh perusahaan di Cayman.
"Lalu di sini ada juga kaitan dengan beberapa skema terkait dengan saham-saham yang di sebanyak 106,9 saham itu melalui ESOP. Gimana ceritanya cayman itu?" Tanya JPU.
Andre menjelaskan bahwa ada satu perusahaan yang bernama GoTo Peopleverse Fund (GPF) yang didirikan untuk mengelola program kepemilikan opsi saham buat karyawan (participants), yang mendapatkan opsi tersebut di dalam perusahaan.
"Ada satu perusahaan yang namanya GoTo Peopleverse Fund yang dibuat untuk memanage program kepemilikan opsi saham buat karyawan/participants, yang mendapatkan opsi tersebut di dalam perusahaan dari 10 ribu orang, Pak. Hampir seluruh karyawan dari perusahaan," kata Andre.
JPU juga bertanya soal adanya transaksi antara GoTo dengan perusahaan Cayman tersebut di mana GoTo memberikan pinjaman kepada GPF, lalu GPF mengelola saham ESOP. Saham ESOP itu pun kemudian diadministrasikan dan diberikan kepada karyawan yang telah memiliki syarat tertentu.
"Dan itu manajemen dan direksi. Termasuk manajemen dan direksi? Tanya JPU.
Andre menjelaskan, "termasuk manajemen dan direksi, tetapi diberikan kepada participants, yaitu karyawan, manajemen, direksi, komisaris yang memenuhi syarat. Dan jumlahnya setelah dicek, itu 10 ribu orang lebih, Pak," tegas Andre.
Mengacu dalam Prospektus IPO GOTO, induk usaha Gojek ini sebetulnya sudah mengungkapkan tujuan pembentukan entitas GoTo Peopleverse Fund (GPF).
Dalam Prospektus dijelaskan, GPF yang berbasis di Cayman itu melakukan penawaran umum melalui pemberian opsi saham secara cuma-cuma kepada karyawan, mantan karyawan, anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang berhak.
Skema ini merupakan bagian dari Program Insentif Jangka Panjang (Long-Term Incentive Plan/LTIP) atau yang secara umum dikenal sebagai program kepemilikan saham karyawan atau ESOP. Prospektus mencatat bahwa jumlah saham Seri A yang dimiliki GPF adalah sebanyak 106,9 miliar lembar saham, yang mewakili sekitar 9,03% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
GOTO telah berkali-kali menyampaikan Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia tentang transaksi distribusi saham dari GPF kepada karyawan. Alhasil Pada Maret 2024, saham GOTO yang dikelola GPF tersia 72,22 miliar atau setara dengan 6,01%.
Sebagai informasi ESOP maupun MESOP merupakan program yang biasa dilakukan dalam perusahaan go public. Kepemilikan ini menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) sehingga kinerja individu lebih selaras dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Selain itu, ESOP menjadi instrumen retensi bagi karyawan talenta. Berdasarkan literatur industri teknologi yang dikutip ScienceDirect, biasanya dalam industri teknologi yang kompetitif, program insentif saham jangka panjang dirancang untuk mendorong karyawan bertahan dan berkontribusi secara berkelanjutan.
Skema vesting atau periode kepemilikan bertahap umumnya diterapkan agar manfaat saham diperoleh setelah masa kerja tertentu.
Bagi manajemen, program ini juga berfungsi sebagai mekanisme penyelarasan kepentingan antara eksekutif dan pemegang saham publik, selain juga memicu adanya inovasi dalam perusahaan yang akan mendorong pertumbuhan bisnis, serta penciptaan nilai jangka panjang.
(ayh/ayh) Add
source on Google