Harga Minyak Turun, Menanti Kepastian AS-Iran dan Tarif
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Senin pagi (23/2/2026).
Berdasarkan Refinitiv, per pukul 10.10 WIB, kontrak Brent berada di level US$71,14 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$65,87 per barel. Koreksi ini muncul setelah reli yang terjadi sepanjang pekan lalu mulai kehilangan tenaga.
Dalam sepuluh hari perdagangan terakhir, pergerakan harga minyak cenderung fluktuatif dengan kecenderungan naik sejak pertengahan Februari.
Brent sempat bergerak dari kisaran US$67 per barel pada 17 Februari menuju area US$71 per barel pada akhir pekan lalu. WTI menunjukkan pola serupa dengan kenaikan dari sekitar US$62 per barel menjadi di atas US$66 per barel sebelum akhirnya kembali turun tipis pada awal pekan ini.
Koreksi harga pada awal pekan terutama dipengaruhi meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik geopolitik di Timur Tengah. Rencana pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai isu nuklir memberi harapan adanya jalur diplomasi yang dapat menahan risiko gangguan pasokan minyak global. Ekspektasi stabilitas pasokan biasanya menekan premi risiko yang sebelumnya mendorong harga naik.
Faktor lain yang membebani harga datang dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Rencana kenaikan tarif impor Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan perdagangan dunia. Pasar energi sangat sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi karena konsumsi bahan bakar berkorelasi langsung dengan aktivitas industri dan transportasi.
Kenaikan tarif diperkirakan meningkatkan sikap hati-hati investor pada awal pekan. Aliran dana yang bergerak ke aset aman biasanya diikuti pelemahan komoditas yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk minyak mentah. Sentimen ini menjadi penyeimbang terhadap optimisme pasar energi yang sebelumnya muncul akibat risiko geopolitik.
Sepanjang pekan lalu harga minyak sempat menguat lebih dari 5% karena kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut meningkatkan spekulasi pasar terhadap kemungkinan gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi global.
Arah harga dalam jangka pendek masih akan ditentukan oleh perkembangan negosiasi Iran dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pasar energi kini berada dalam fase menunggu kepastian baru setelah reli singkat yang terjadi pada pertengahan Februari mulai tertahan di area US$70 per barel untuk Brent.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]