Neraca Pembayaran RI Defisit US$ 7,8 Miliar Sepanjang Tahun 2025
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengumumkan, neraca pembayaran Indonesia alias NPI mengalami defisit sebesar US$ 7,8 miliar sepanjang 2025. Nilai itu berbalik arah dibandingkan dengan surplus pada 2024 sebesar US$ 7,2 miliar (0,6% dari PDB).
"Secara keseluruhan tahun 2025, perkembangan NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," dikutip dari siaran pers BI, Jumat (20/2/2026).
Kondisi NPI disebabkan transaksi modal dan finansial tahun 2025 mencatat defisit sebesar US$ 4,2 miliar didorong oleh keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi sepanjang tahun 2025.
Adapun untuk transaksi berjalan tercatat defisit sebesar US$ 2,5 miliar (0,7% dari PDB), setelah pada kuartal III-2025 mencatat surplus sebesar US$ 4,0 miliar (1,1% dari PDB). Seiring dengan neraca perdagangan migas yang mencatat defisit yang lebih tinggi sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi domestik.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring dengan kinerja ekspor yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur.
Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder juga lebih tinggi dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Sementara itu, defisit neraca jasa meningkat didorong oleh kenaikan defisit jasa telekomunikasi sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi. Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen.
Adapun khusus untuk NPI kuartal IV-2025 surplus sebesar US$ 6,1 miliar. Ditopang oleh neraca perdagangan migas yang surplus, neraca pendapatan sekunder yang meningkat dipengaruhi oleh kenaikan remitansi PMI.
Sedangkan transaksi berjalan pada kuartal IV 2025 tercatat defisit sebesar US$ 2,5 miliar (0,7% dari PDB), setelah pada kuartal III 2025 mencatat surplus sebesar US$ 4,0 miliar (1,1% dari PDB).
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya kontraksi harga komoditas.
Di sisi lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit yang lebih tinggi sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi domestik.
Defisit neraca jasa juga tercatat lebih tinggi disebabkan oleh penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal IV 2025 dibandingkan dengan kondisi pada kuartal III 2025.
"Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi oleh kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI)," kata BI dalam laporannya.
Transaksi modal dan finansial mencatat surplus. Neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$ 8,3 miliar pada kuartal IV 2025, setelah pada kuartal III 2025 mencatatkan defisit sebesar US$ 8,0 miliar.
Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia.
Investasi portofolio mencatat surplus ditopang oleh meningkatnya aliran masuk modal asing seiring dengan imbal hasil investasi yang tetap menarik. Investasi lainnya juga mencatat surplus dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri.
(arj/miq) Add
source on Google