BI Guyur Likuiditas Bank Rp 427,5 T di Awal Tahun

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 19/02/2026 15:08 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) menegaskan penguatan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial atau KLM masih akan terus ditempuh ke depannya.

Dengan perkembangan tersebut, insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama Februari 2026 adalah sebesar Rp427,5 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp357,9 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,6 triliun.


Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan implementasi KLM yang diperkuat sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor tertentu yang ditetapkan Bank Indonesia (lending channel) serta penetapan suku bunga kredit/persentase imbalan pembiayaan perbankan yang sejalan dengan arah suku bunga kebijakan Bank Indonesia (interest rate channel).

Dengan penguatan KLM, insentif yang lebih tinggi diberikan bagi bank yang lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia.

"Implementasi KLM sejak Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit perbankan serta penetapan suku bunga kredit yang sejalan arah kebijakan BI," kata Perry, Kamis (19/2/2026).

Dari total insentif KLM Rp 427,5 triliun, alokasi lending mencapai Rp 357,9 triliun dan interest rate Rp 69 triliun. Jika rinci berdasarkan kelompok perbankan, bank BUMN mendapatkan KLM Rp 207,1 triliun, bank usaha syariah nasional (BUSN) Rp 184,8 triliun dan BPD Rp 28,5 triliun dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp 71 triliun.

Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan transmisi dari kebijakan BI untuk suku bunga kredit memang baru dioptimalkan melalui KLM. Dari kebijakan ini, BI melihat efektivitasnya untuk mendorong penurunan suku bunga kredit.

"Itu tercermin kalau kita lihat suku bunga sekarang eksisting turun 40 bps yang baru turun 75 bps dibanding BI Rate 125 bps turun. Ini menunjukkan transmisi kebijakan suku bunga mulai berjalan didorong kebijakan KLM dengan fokus interest channel," kata Destry.

Dari data BI, KLM hingga saat ini sudah terpakai 4,83% dari DPK. BI masih memiliki space hingga 5,5%.

"Masih ada 0,7% yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan insentif," ujarnya.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75%