Ini Penjelasan Emiten Hapsoro (BUVA) Soal Rights Issue 50 Miliar Saham
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) buka suara mengenai rencana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue. Suntikan modal ini dilakukan usai melakukan yang pertama pada November lalu.
Kali ini, BUVA berencana mengeluarkan saham baru sebanyak-banyaknya 50 miliar lembar, setara 203,11% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor BUVA sebanyak 24,61 miliar lembar.
Emiten properti milik Happy Hapsoro pun memberikan penjelasan atas permintaan Bursa Efek Indonesia (BEI).
BUVA menyatakan opsi ini diambil karena memiliki dampak yang lebih kecil dibandingkan dengan pendanaan dari perbankan.
Selain itu, rights issue memberikan kesempatan kepada pemegang saham untuk mendukung pertumbuhan perusahaan secara langsung.
Manajemen BUVA menyampaikan bahwa saat ini masih melakukan proses kajian internal mengenai harga pelaksanaan dan rasio PMHMETD II. Informasi selengkapnya akan dipublikasikan dalam Prospektus PMHMETD Il sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Namun, manajemen mengungkapkan bahwa pemegang saham pengendali dan pemegang saham utama BUVA, memiliki rencana untuk mengambil hak lebih dari proporsi bagiannya apabila terdapat pemegang saham lain yang tidak melaksanakan haknya dalam pelaksanaan rights issues. Hal itu nantinya akan dipublikasikan dalam prospektus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Penggunaan dana hasil dari PMHMETD Il akan dipergunakan untuk keperluan belanja modal berupa pembelian lahan, pengembangan aset serta usaha Perseroan, pengambilalihan perusahaan yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan usaha dan mewujudkan pertumbuhan anorganik Perseroan dan/atau untuk pembayaran atas kewajiban Perseroan dan/atau anak usaha," kata manajemen BUVA dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (19/2/2026).
BUVA menyatakan berkomitmen untuk menggunakan dana hasil PMHMETD Il secara konsisten dengan rencana dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Sementara itu, BUVA melaporkan realisasi dari Rp603 miliar yang dihimpun dari rights issue I pada bulan lalu. Sebesar Rp416,23 miliar direalisasikan untuk pengambilalihan 99% saham PT Bukit Permai Properti (BPP). Kemudian sebesar Rp76,60 miliar untuk pengembangan lahan di Pecatu, Bali.
Dana tersisa dari rights issue pertama sebesar Rp107,44 miliar.
BUVA mengatakan akan melakukan pembelian dan pengembangan lahan di daerah Pecatu, Bali, yang mana sampai dengan saat ini masih dalam tahap perencanaan dan kajian internal. Perseroan saat ini masih melakukan kajian internal terkait kebutuhan atas rencana PMHMETD Il, termasuk penilaian apakah penerbitan itu diperlukan untuk melengkapi pendanaan dari aksi korporasi PMHMETD I.
Lebih lanjut, BUVA menyebut pemenuhan ketentuan free float 15% dapat terpenuhi lewat aksi korporasi ini.
"Perseroan memproyeksikan pemenuhan ketentuan free float minimal sebesar 15% dapat tercapai melalui skema PMHMETD Il ini. Target tersebut akan terpenuhi apabila setidaknya 3,67% dari total porsi masyarakat melakukan eksekusi atau subscribe terhadap haknya. Hal ini menunjukkan ambang batas partisipasi publik yang cukup realistis untuk menjaga likuiditas saham Perseroan di pasar," ungkap manajemen BUVA.
(mkh/mkh)