MARKET DATA

Harga Minyak Mentah Melemah, Pasar Cermati Arah Konflik AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
19 February 2026 10:15
PHE
Foto: Dok: Pertamina

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis pagi (19/2/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak tajam lebih dari 4%. Pelaku pasar kini menahan posisi sambil mencermati arah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih dinamis.

Merujuk data Refinitiv, hingga pukul 09.10 WIB, harga minyak jenis Brent berada di level US$70,43 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$65,26 per barel. Keduanya masih bertahan di dekat level tertinggi sejak akhir Januari.

Secara historis, reli yang terjadi sehari sebelumnya mendorong Brent menembus kembali area psikologis US$70 per barel. Pada 17 Februari 2026, Brent sempat ditutup di US$67,42 sebelum kemudian melonjak ke US$70,35 pada 18 Februari 2026. WTI juga menunjukkan pola serupa, naik dari US$62,33 menjadi US$65,19 dalam periode yang sama. Lonjakan tersebut mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali masuk ke harga.

Melansir Reuters, ketegangan antara Washington dan Teheran menjadi katalis utama. Di satu sisi, kedua negara disebut masih membuka ruang dialog dan pembicaraan lanjutan dijadwalkan dalam beberapa pekan ke depan. Namun di sisi lain, aktivitas militer di kawasan Timur Tengah dilaporkan meningkat, termasuk pengerahan aset militer dan pemberitahuan aktivitas peluncuran roket oleh Iran. Situasi ini membuat pasar berada dalam posisi siaga.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai eskalasi penuh relatif kecil kemungkinannya dalam waktu dekat. Ekspektasi bahwa konflik terbuka dapat ditekan membuat harga terkoreksi tipis pagi ini. Artinya, pasar sedang menimbang dua skenario sekaligus: risiko gangguan pasokan di kawasan produsen utama versus peluang meredanya ketegangan melalui jalur diplomasi.

Dari sisi fundamental, pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat. Laporan awal dari pelaku industri menunjukkan penurunan stok minyak mentah, bensin, dan distilat pada pekan lalu. Angka resmi dari otoritas energi AS dijadwalkan rilis hari ini dan berpotensi menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya. Jika penurunan stok terkonfirmasi, harga berpeluang kembali mendapat dorongan.

Pergerakan sepanjang Januari hingga Februari 2026 memperlihatkan volatilitas yang cukup tinggi. Pada 22 Januari 2026, Brent sempat berada di US$64,06 sebelum secara bertahap menguat hingga menyentuh US$70,71 pada 29 Januari 2026. Setelah itu harga terkoreksi ke kisaran US$67-68 pada awal Februari, sebelum kembali reli pekan ini. Pola ini menunjukkan pasar masih sangat responsif terhadap sentimen geopolitik dan data fundamental jangka pendek.

Untuk saat ini, level US$70 per barel bagi Brent menjadi area krusial yang diawasi pelaku pasar. Selama ketegangan AS-Iran belum menemukan kejelasan arah, harga minyak berpotensi bergerak fluktuatif dengan rentang yang lebar, mengikuti setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang muncul.

CNBC Indonesia 

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article OPEC+ Tahan Produksi, Harga Minyak Dunia Naik


Most Popular
Features