MARKET DATA
Economic Outlook 2026

Kelas Menengah Anjlok, Bisnis Bank Kena Imbas

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
11 February 2026 14:01
Vice President of Macroeconomic and Financial Market Research Department, Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Dian Ayu Yustina saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Vice President of Macroeconomic and Financial Market Research Department, Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Dian Ayu Yustina saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Vice President of Macroeconomic and Financial Market Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Dian Ayu Yustina buka-bukaan soal pertumbuhan kredit di 2025 yang gagal mencapai double digit.

Ia mengatakan, hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, mengingat pemulihan sektoral masih belum seimbang. Begitupun dengan segmen kredit, khususnya kredit konsumer.

Seperti diketahui, pertumbuhan kredit consumer di Indonesia melambat dan hanya tercatat tumbuh 6,58%.

"Tekanan juga datang dari melemahnya kelas menengah. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan proporsi kelas menengah turun menjadi sekitar 16% dari sebelumnya 20% sebelum pandemi. Kondisi ini menekan daya beli dan permintaan kredit konsumsi," ujarnya alam acara CNBCIndonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Selain itu, pemulihan pasar tenaga kerja dinilai belum ideal. Sektor yang pulih lebih cepat bersifat capital intensive, sementara sektor labor intensive tertinggal.

Kualitas pekerjaan yang tercipta pun cenderung low-skilled, dengan porsi pekerja informal masih besar. Hal ini turut membatasi ekspansi kredit di segmen menengah ke bawah.

Di sisi lain, kendati demikian Dian menegaskan likuiditas saat ini tetap dijaga secara prudent. Perbankan bersikap selektif dalam menyalurkan kredit, terutama pada segmen-segmen yang kualitas kreditnya dinilai belum kuat, meski rasio kredit bermasalah (NPL) secara agregat masih terkendali.

(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Alasan Kredit Bank Masih Loyo: Pengusaha Wait & See dan Bunga Tinggi


Most Popular
Features