Economic Outlook 2026

Ini Alasan OJK Tutup Puluhan BPR

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Selasa, 10/02/2026 15:14 WIB
Foto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pengawas perbankan Dian Ediana Rae mengungkapkan alasan mengapa ada puluhan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) diputuskan untuk ditutup oleh OJK.

Dian menyebut keputusan penutupan BPR diambil karena banyaknya kasus fraud. Dengan jumlah BPR yang mencapai lebih dari seribu, dirinya menyebut ini menjadi tantangan berat bagi OJK, serta LPS yang mempunyai mandat untuk menjamin simpanan warga RI.


"Sekian puluh kita tutup BPR itu. Kenapa itu kita tutup? Ya karena mereka ada yang fraud dan lain sebagainya," ungkap Dian dalam dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dian dengan tegas menyebut OJK tidak akan membiarkan kasus fraud berlalu begitu saja, meskipun terjadi di institusi perbankan terkecil seperti BPR.

Dengan jumlah BPR yang sangat banyak, Dian mengaku membutuhkan bantuan agar dapat mengawasi seluruh BPR dengan baik, sehingga pihaknya dapat menegakkan implementasi tata kelola yang baik bagi seluruh institusi keuangan.

"Nah ini, dukungan tentu. Kita harapkan dukungan dari pemerintah, dukungan dari DPR, dukungan dari semua stakeholders lain termasuk aparat penegak hukum," ungkap Dian.

Dian secara spesifik meminta agar seluruh pemangku kepentingan dapat membantu OJK khususnya terkait dengan tindak pidana.

"Supaya mungkin (OJK) itu bisa menindak, kalau ada masalah gitu bisa menindak dengan tegas, bisa tuntas," jelas Dian.

Sementara itu, meskipun puluhan BPR telah ditutup, Dian mengatakan sejatinya kondisi finansial di Indonesia relatif stabil, khususnya perbankan.

"Perbankan itu kan share-nya sekarang masih sekitar 80%, Pak. Dan alhamdulillah kita bisa keep it, misalnya calm lah, bisa dikatakan so far stable," jelas Dian.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Respons MSCI, OJK dan BEI Siapkan 8 Jurus Perbaiki Pasar Modal