Ini Kata Ketua LPS Alasan Bunga Pinjaman Lambat Turun
Jakarta, CNBC Indonesia - Turunnya suku bunga acuan atau BI rate sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang tahun 2025, menjadi 4,75%, dari posisi sebelumnya di level 6% pada akhir 2024, ternyata tidak segera diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu menyoroti perihal masih tingginya suku bunga kredit perbankan di Tanah Air.
"Saat ini ada sekitar 30% simpanan yang di antaranya special rate. Itu salah satu yang membuat suku bunga pinjaman itu tidak bisa turun sesuai dengan yang diharapkan," tukasnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Berdasarkan data LPS, porsi simpanan di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) masih cukup besar mencapai Rp 3.336 triliun, atau sekitar 30% dari total dana simpanan nasabah sebesar Rp 13.424 triliun. Dari profil kepemilikan simpanan yang menerima di atas TBP, LPS mencatat paling banyak dimiliki oleh korporasi swasta yang menccapai proporsi 50,31% dari jumlah tersebut. Kemudian disusul oleh dana pemerintah dan BUMN sebesar 22,77%. Sementara 22,69% dimiliki oleh nasabah individu, dan lainnya sebesar 4,23%.
"Jadi saya sudah sampaikan bahwa BI sudah turunkan 75 bps tapi baru turun 0,5% suku bunga perbankan. Jadi transmisinya lambat," tukas Anggito.
(bul/bul)