Danantara Resmi Mulai 6 Proyek Kebanggaan Prabowo Rp110 Triliun

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Sabtu, 07/02/2026 19:54 WIB
Foto: Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani dan COO Danantara Donny Oskaria saat melakukan prosesi Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1, Jumat (6/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Danantara Indonesia)
Dafar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking di 6 proyek hilirisasi. Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, 6 proyek yang bergerak di sektor energi, pertambangan, pertanian, dan peternakan tersebut senilai Rp 110 triliun.

Menurutnya, proyek ini akan menciptakan lapangan pekerjaan sekitar 3000 lapangan pekerjaan baik secara langsung, maupun secara tidak langsung dan melibatkan banyak pemangku kepentingan termasuk juga usaha kecil menengah di daerah proyek beroperasi.

"Memang dengan 6 proyek ini akan kurang lebih investasinya kami itu mencapai US$ 7 miliar atau kurang lebih Rp 110 triliun," ujarnya di kantor Danantara Jakarta, dikutip Sabtu (7/2/2026).


Proyek hilirisasi ini bukan hanya berfokus pada investasi, melainkan dapat menciptakan multiplier efek seperti terbukanya lapangan pekerjaan hingga pertumbuhan daerah yang berujung pada pertumbuhan nasional.

"6 proyek hilirisasi yang sebetulnya berlokasi di 13 daerah karena ada 1 proyek hilirisasi poultry atau peternakan ayam ini di 6 kota," sebutnya.

Rosan menyebut, proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral energi dan agroindustri yang merupakan tulang punggung dari transformasi ekonomi nasional ke depannya. Proyek ini menjadi fokus Presiden RI Prabowo Subianto karena akan berdampak langsung bagi ekonomi dan masyarakat.

Ia memaparkan, kontribusi dari proyek hilirisasi meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2025 proyek hilirisasi ini menyumbang kurang lebih 30% dari total investasi yang masuk ke Indonesia atau senilai Rp 584,1 triliun. Capaian tersebut naik 43,3% secara tahunan.

"Jadi memang hilirisasi ini akan meningkat secara dalam dan kalau kita lihat memang sebelumnya hilirisasi ini lebih berpusat di dua daerah. Karena adalah Indonesia Mineral terutama di daerah Maluku dan juga di daerah Maluku Utara dan juga di daerah Sulawesi. Dan itu kita harapkan penyebarannya menjadi lebih baik kalau kita lihat tadi penyebaran juga akan menjadi lebih meningkat ke depannya," jelasnya.

Adapun 6 proyek tersebut sebagai berikut:

1. Smelter Aluminium Baru

Pabrik ini dirancang berkapasitas 600.000 metrik ton aluminium per anum dan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per anum yang berlokasi di Mempawah Kalimantan Barat.

Fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit - alumina - aluminium ini digarap oleh MIND ID bersama anggotanya Inalum dan Antam. Proyek ini ditujukan untuk mendukung program ketahanan mineral Indonesia, serta mendukung pasokan bahan baku bagi sektor industri manufaktur dalam negeri, sebagai bagian dari penguatan rantal nilai industri nasional.

Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium.

Hal ini didasari dari harga bauksit mentah berada dikisaran US$40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar US$400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina dan kembali melonjak hinga sekitar US$2.800 - US$3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

Saat smelter aluminium baru beroperasi, diperkirakan cadangan devisa naik 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Di samping itu, para pelaku industri manufaktur akan mendapat kepastian bahan baku dari dalam negeri.

2. Pabrik bioethanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur

Proyek ini digarap oleh PTPN III (Persero) bersama Pertamina. Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 100 KLPD (Kilo Liter Per Day) yang ditujukan untuk mendukung sektor energi, sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.

Proyek Bioethanol Glenmore diharapkan dapat membawa manfaat menyeluruh berupa diversifikasi bisnis dan peningkatan nilai tambah bagi perusahaan melalui pengolahan komoditas bagi negara dalam meningkatkan ketahanan energi, menghemat devisa, serta mendukung komitmen pengurangan emisi.

3. Proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Cilacap yang berlokasi di Jawa Tengah

Proyek ini digarap oleh PT Pertamina (Persero). Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari (KBPD) minyak jelantah. Saat ini, telah menghasilkan 27 kilo liter (KL) Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari. Pada tahun 2029, diproyeksikan meningkat menjadi 887 KL SAF per hari.

Proyek ini ditujukan untuk mendukung sektor energi, penerbangan dan pelestarian lingkungan, sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.

Proyek ini diharapkan dapat mewujudkan transisi energi, berpotensi menurunkan impor Avtur, mendukung Peta Jalan penggunaan SAF di Indonesia, mendukung Swasembada Energi dan Energi Transisi.

Selain itu, mengurangi emisi hingga 600 ribu ton setara CO2 per tahun, peningkatan PDB estimasi Rp199 triliun per tahun, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi wilayah sekitar melalui penyerapan tenaga kerja tidak langsung hingga 5.900 orang, penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta pemberdayaan masyarakat.

4. Pabrik bioethanol Glenmore berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur

Pabrik ini digarap oleh PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara.

Pabrik ini diharapkan memiliki kapasitas produksi bioethanol berbasis tebu mencapai 30 ribu KL per tahun. Proyek ini ditujukan untuk mendukung sektor energi transisi, pertanian dan pelestarian lingkungan, sekaligus sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.

Proyek sinergi BUMN ini diharapkan dapat menciptakan efek domino berupa potensi penurunan impor BBM dan penurunan emisi sebesar 66 ribu ton setara CO2 per tahun, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi wilayah sekitar melalui penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat bagi lebih dari 4.000 petani dan tenaga kerja lokal.

5. Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2

Pabrik ini dirancang sebagai pabrik garam bahan baku industri, diklaim menggunakan teknologi MVR Manyar dan Sampang.

PT Garam melaksanakan groundbreaking tiga Proyek Hilirisasi Fase I yang menjadi bagian dari transformasi industri nasional yang diinisiasi oleh Danantara Indonesia. Proyek ini menegaskan arah baru PT Garam dalam memperkuat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, dan mendukung swasembada garam nasional.

Ketiga proyek tersebut meliputi Pabrik Garam Bahan Baku Industri berteknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Kabupaten Sampang berkapasitas 200.000 ton per tahun, yang dilaksanakan melalui skema joint operation dengan PT Putra Arga Binangun dan PT SCC Chemical Engineering Indonesia.

Selanjutnya, Pabrik Garam Bahan Baku Industri MVR di Manyar, Gresik berkapasitas 100.000 ton per tahun melalui kerja sama strategis dengan Unilever.

Serta Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 di Kabupaten Gresik dengan kapasitas 80.000 ton per tahun.

Ketiga proyek ini memiliki total kapasitas produksi sekitar 380.000 ton per tahun dan diharapkan mampu memperkuat pasokan garam industri, meningkatkan kualitas produk, serta mendorong optimalisasi utilisasi produksi dan penciptaan lapangan kerja.

6. Hilirisasi Poultry Terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD melalui anak perusahaannya PT Berdikari meresmikan Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi. Fasilitas ini dibangun atas lahan seluas 5,6 hektar. Fasilitas ini dirancang dan ditujukan untuk mendukung sektor pangan, sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.

Selain di Kabupaten Malang, telah dilakukan groundbreaking di 5 lokasi lainnya, yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.

Target Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan 18 proyek hilirisasi senilai Rp618 triliun. Proyek ini diperkirakan dapat menciptakan 276.000 lapangan kerja berkualitas baru.

Semula, Prabowo menilai, keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mempunyai peran yang cukup strategis dalam pengelolaan aset negara. Mengingat, melalui Danantara, pemerintah tidak perlu meminta investasi dari luar negeri.

"Kita punya kemampuan sekarang. Jadi tadi saya sampaikan pokok-pokok yang harus kita mulai dan laksanakan adalah hilirisasi. Delapan belas proyek ini akan ciptakan 276.000 pekerjaan berkualitas dengan investasi Rp618 triliun," kata Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).

Selain proyek hilirisasi, Prabowo juga turut menyoroti mengenai persoalan sampah yang menurutnya harus segera diatasi. Pasalnya penampungan sampah nasional diperkirakan akan mencapai over kapasitas di 2028.

"Sampah ini jadi masalah, diproyeksi hampir titik sampah akan over capacity di 2028 bahkan lebih cepat," kata Prabowo.

Oleh sebab itu, guna mengatasi permasalahan tersebut pemerintah tengah menyiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa) atau biasa disebut dengan program Waste to Energy. Proyek ini rencananya akan dibangun di 34 titik pada kabupaten/kota,

"Kita perkirakan dua tahun lagi berfungsi ini investasi cukup besar, totalnya itu US$3,5 miliar untuk 34 titik itu tapi setelah saya lihat di beberapa kabupaten, kota-kota Kabupaten juga harus ada, dan ini sudah ada inisiatif bupati improvisasi kita pelajari bisa tuker pengalaman," ujar Prabowo.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Danantara Pastikan Siap "Terjun" ke Bursa Saham