Kantor Purbaya & BI Jawab Laporan Terbaru Moody's, Simak!

Arrijal Rachman , CNBC Indonesia
Jumat, 06/02/2026 07:35 WIB
Foto: REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat kredit Moody's menurunkan outlook rating Indonesia dari stable menjadi negatif. Namun, untuk rating utang atau kredit Indonesia hasil analisis terbaru, mereka masih pertahankan di level Baa2.

Alasan diubahnya outlook itu karena Moody'e menganggap prediktabilitas kebijakan di Indonesia menurun. Masalah itu mereka anggap berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan.


Merespons masalah itu, kantor Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa segera menerbitkan pernyataan resmi. Kementerian Keuangan menegaskan, penilaian ini dikeluarkan Moody's setelah melakukan proses asesmen dalam rangkaian kunjungan tanggal 27-29 Januari 2026 di Jakarta.

"Moodys telah melakukan diskusi dengan beberapa K/L dan otoritas, yaitu: Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM," sebagaimana tertera dalam rilis Kemenkeu.

Kementerian Keuangan juga mengakui, dalam kunjungan assessmen itu Moody's menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.

Moody's juga menyampaikan pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Pemerintah mengapresiasi asesmen Moody's yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif," tulis Kementerian Keuangan.

Pemerintah juga memastikan akan terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi. Pemerintah terus memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat dikelola dengan baik. Berbagai upaya debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha terus dilakukan.

Selain itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar serta stabilitas pasar keuangan. Sinergi fiskal dan Danantara akan dioptimalkan.

Dengan komitmen dan konsistensi kebijakan, Pemerintah optimis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat. Indikasi perbaikan ekonomi telah terlihat sejak Semester II 2025 dengan berbagai indikator yang membaik. Hal ini juga dikonfirmasi dengan kinerja pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 sebesar 5,39% yang melebihi ekspektasi pasar.

"Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi akan terus membaik dengan komitmen pengelolaan ekonomi yang makin baik, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat, dan investasi yang meningkat di berbagai sektor sebagai indikator makin kuatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia."

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo melalui keterangan tertulisnya juga mengakui revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Moody's akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian.

"Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia," kata Perry.

Perry juga menekankan, di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.

"Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga.

Moody's menilai bahwa defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3% PDB, sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi. Moody's juga memperkirakan bahwa rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers.

Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan. Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan KSSK dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar," ucap Perry.


(mij/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Tembus 9.000, Menkeu Optimistis Tahun Ini Tembus 10.000