Rupiah Balik Melemah, Dolar AS Naik Jadi Rp16.785
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/2/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup turun tipis 0,03% ke level Rp16.785/US$. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi hari, rupiah sempat menguat dengan apresiasi sebesar 0,06% di posisi Rp16.770/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, rupiah berbalik tertekan hingga menutup sesi di zona merah.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau berada di zona positif dengan penguatan 0,19% ke level 97,174. Penguatan ini melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan sebelumnya, ketika DXY ditutup melonjak 0,74% di posisi 96,991.
Pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini sejalan dengan rilis data ekonomi dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 sebesar 3,55%. Namun, secara bulanan (month to month/mtm), Indonesia justru mengalami deflasi 0,15%.
Selain itu, BPS juga melaporkan kabar positif dari sisi eksternal, yakni neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus kumulatif sepanjang Januari-Desember 2025 sebesar US$41,05 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding surplus 2024 yang sebesar US$31,04 miliar.
Dari sisi eksternal, penguatan indeks dolar AS menjadi faktor penekan bagi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. DXY menguat seiring investor yang mulai mempertimbangkan arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) di bawah potensi kepemimpinan Kevin Warsh, yang disebut memiliki preferensi neraca bank sentral yang lebih ramping.
Penunjukan Warsh sebagai pilihan Presiden AS Donald Trump untuk kursi Ketua The Fed memicu aksi jual aset berisiko pada Jumat pekan lalu yang membuat penurunan harga pada logam mulia, sementara dolar kembali menutup pelemahan yang terjadi pada awal pekan lalu.
Pasar menilai, meski Warsh berpotensi condong pada pemangkasan suku bunga, dorongan untuk memperketat neraca The Fed dapat menopang dolar karena mengurangi likuiditas di pasar.
(evw/evw)