Rupiah Kembali Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp16.745
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (6/1/2026).
Mengacu pada data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di level Rp16.745/US$ atau melemah 0,06%. Dengan demikian, rupiah telah mencatatkan pelemahan selama tiga hari perdagangan berturut-turut sejak awal 2026.
Padahal pada awal perdagangan pagi tadi, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,0% ke posisi Rp16.730/US$, sebelum akhirnya berbalik melemah hingga ke level penutupan.
Sepanjang sesi hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp16.720 - Rp16.765 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah tipis 0,05% ke level 98,220. Sayangnya, rupiah belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar tersebut dan tetap bergerak di zona koreksi.
Tekanan terhadap rupiah hari ini berlangsung di tengah pergerakan dolar AS yang cukup volatile.
Dolar sempat tertekan setelah rilis data indeks manufaktur ISM Desember kembali menunjukkan kontraksi lebih dalam, turun ke level 47,9 dan menjadi laju pelemahan aktivitas manufaktur terdalam dalam 14 bulan terakhir.
Data tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap ketahanan sektor industri AS dan sempat menekan permintaan terhadap dolar.
Namun, pelemahan dolar masih tertahan oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik di Venezuela, serta komentar bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Federal Reserve.
Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menilai suku bunga AS saat ini berada dekat dengan level netral, sementara Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson menyatakan bahwa penyesuaian suku bunga lanjutan masih dimungkinkan apabila inflasi dan pasar tenaga kerja bergerak sesuai proyeksi.
Di tengah dinamika tersebut, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 16% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27-28 Januari mendatang. Untuk jangka menengah, ekspektasi pasar masih melihat potensi pemangkasan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang 2026.
Dengan faktor tekanan geopolitik global, komentar kebijakan dari pejabat The Fed, serta sentimen pelaku pasar yang masih berhati-hati terhadap prospek suku bunga AS, rupiah belum mampu keluar dari pelemahan dan menutup perdagangan hari ini di zona pelemahan.
(evw/evw)[Gambas:Video CNBC]