MARKET DATA

Breaking News! IHSG Makin Ambruk, Sudah Jeblok 4,35%

ayh,  CNBC Indonesia
02 February 2026 09:37
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026) semakin dalam. Indeks tercatat sudah turun 4,35% ke level 7.969,03 hingga pukul 09:30 WIB.

Sebanyak 630 saham tercatat anjlok, dan 252 saham tidak bergerak. Hanya 78 saham yang mengalami kenaikan. Volume perdagangan mencapai 16,46 miliar saham, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1 juta kali, senilai Rp9,77 triliun.

IHSG sendiri dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026). Indeks dibuka turun 0,28% ke level 8.306,16. Namun 12 menit setelah pasar buka, IHSG melanjutkan pelemahan dan kehilangan 287 poin atau ambruk hingga 3,44% ke level 8.043,11.

Pelemahan IHSG hari ini terjadi setelah emiten tambang dan perdagangan emas kompak turun usai harga acuan global ambles signifikan akhir pekan lalu. Nyaris seluruh saham emas RI terkoreksi mendekati level double digit penurunan pada awal perdagangan hari ini.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan pertama Februari 2026. Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan, mulai dari kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan Indonesia.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan rupiah masih rentan digoyang sentimen jangka pendek.

Berikut sejumlah data dan perkembangan terbaru yang bisa mempengaruhi pasar saham, rupiah, dan SBN

Hari ini, Senin (2/2/2026), S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur untuk Januari. Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia melandai pada Desember 2025 tetapi mencatatkan fase ekspansi selama lima bulan beruntun.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 51,2 pada Desember 2025 atau mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 53,3 di Oktober. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Sektor manufaktur Indonesia mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada Desember, dengan pertumbuhan ditopang oleh membaiknya pesanan baru. Perusahaan juga mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada tingkat produksi tetapi laju pertumbuhannya melambat. Pendorong utama ekspansi kondisi operasional adalah peningkatan pesanan baru yang terus berdatangan.

Badan Pusat Statistik(BP) akan mengumumkan dua rilis penting hari ini yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember serta sepanjang 2025.

Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Januari 2026 seiring normalisasi harga sejumlah bahan pangan. Konsensus pasar yang dihimpun dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di level rendah, yakni sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,64% .

Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang Desember 2025. Poling CNBC memperkirakan surplus pada Desember 2025 akan mencapai US$ 5,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan pada November 2025 yakni US$ 2,66 miliar.

(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking! IHSG Terbang 1,21%, Sejengkal Menuju 7.900


Most Popular
Features