Momok MSCI, Penyebab IHSG Ambruk Hingga Mundurnya Bos BEI-OJK
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan signifikan pekan ini. Indeks ambrol nyaris 7% dalam sepekan, bahkan pada perdagangan hari Rabu dan Kamis, IHSG sempat diberhentikan sementara perdagangannya karena turun lebih dari 8% dalam sehari perdagangan.
Pada titik terendah perdagangan intraday pekan ini, IHSG sempat menyentuh level 7.482 atau ambruk 18% dari rekor harga penutupan tertinggi bursa yang dicatatkan kurang dari dua minggu lalu.
Pelemahan signifikan ini terjadi karena adanya kabar buruk dari penyedia layanan indeks global yang membuat tekanan jual semakin tinggi, khususnya dari investor asing.
IHSGÂ mulai ambruk pada perdagangan hari Rabu merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.
"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.
Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.
Merespons keputusan MSCI, Goldman Sachs ikut menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight, menyusul peringatan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global masih akan berlanjut, seiring keputusan MSCI yang menilai pasar saham Indonesia menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan free float.
Akibatnya investor semakin panik, sehingga sejumlah pejabat dan regulator bertemu untuk mengambil langkah konkrit meredam ketakutan investor. Sejumlah tokoh penting dari Menteri Keuangan Purbaya, Menko Perekonomian Airlangga, CEO Danantara Rosan, CIO Danantara Pandu serta otoritas bursa BEI dan pengawas keuangan OJK buka suara.
Buntutnya, pada hari Jumat, Direktur Utama BEI Imam Rachman mengundurkan diri, disusul oleh Ketua OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua OJK Mirza dan Kepala Eksekutif OJK pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi ikut mundur.
(fsd/fsd)[Gambas:Video CNBC]