BBCA Dijual Asing Rp 4,15 T, Harga Balik ke 2022
Jakarta, CNBC Indonesia — Aliran modal asing kembali mengalir deras keluar dari pasar modal Tanah Air hari ini, Rabu (28/1/2026). Hal ini seiring dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing untuk indeks saham di Indonesia pada Februari 2026.Â
Sepanjang perdagangan hari ini, asing melakukan aksi beli Rp 14,76 triliun dan jual Rp 20,93 triliun. Dengan demikian, net foreign sell hari ini mencapai Rp 6,17 triliun.Â
Sebagian besar net sell asing tersebut disumbang oleh Bank Central Asia (BBCA). Emiten bank milik Djarum ini mencatat net sell sebanyak Rp 4,15 triliun. Sebanyak 8,77 juta lot saham berpindah tangan dengan harga rata-rata 7.114,5.Â
Seiring dengan aksi jual asing tersebut, saham BBCA mengalami tekanan sebesar 6,33% atau -475 poin ke level 7.025. Pada sesi 2 perdagangan, BBCA bahkan sempat menembus level support dan menyentuh harga 6.925.Â
Sebagai informasi, harga penutupan hari ini merupakan harga terendah sejak Juli 2022. Pada medio Juli 2022, BBCAÂ sempat ditutup parkir di level 7.000.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hari ini. Indeks anjlok 7,35% ke level 8.320,56 atau terkoreksi 659,67 poin pada penutupan perdagangan hari ini. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 8% dan dilakukan perhentian perdagangan sementara (trading halt) oleh otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI).
Nyaris seluruh saham yang aktif diperdagangkan di bursa masih berada di zona merah. Sebanyak 753 saham turun, 16 tidak bergerak, dan hanya 37 saham yang naik.
Nilai transaksi tercatat jumbo atau yakni mencapai Rp 45,50 triliun yang melibatkan 60,86 miliar saham dalam 3,99 juta kali transaksi.
Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.
"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.
(mkh/mkh)[Gambas:Video CNBC]