Ada Efek Venezuela dan OPEC+, Harga Minyak Masih Tinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil di level tinggi pada perdagangan Selasa (27/1/2026), seiring pasar mencerna reformasi sektor minyak Venezuela dan sinyal OPEC+ untuk mempertahankan kebijakan produksi yang ketat.
Melansir Refinitiv, hingga pukul 10.20 WIB, harga minyak Brent tercatat di US$65,16 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$60,29 per barel.
Konsolidasi setelah reli harga sepanjang Januari, di mana Brent sempat menyentuh area US$66 per barel pada pertengahan bulan.
Dalam sepekan terakhir, Brent bergerak di kisaran US$63,94-US$65,88 per barel, sedangkan WTI bertahan di rentang US$59,36-US$61,07 per barel. Pola ini mencerminkan pasar yang masih sensitif terhadap isu pasokan, namun belum melihat katalis yang cukup kuat untuk mendorong lonjakan lanjutan.
Sentimen datang dari Venezuela, setelah pemerintah sementara negara tersebut mengusulkan reformasi besar pada undang-undang hidrokarbon. Reformasi ini membuka ruang lebih besar bagi mitra PDVSA untuk mengendalikan proyek, mengakses langsung hasil penjualan minyak, serta memperoleh fleksibilitas operasional, dilansir dari Reuters. Skema baru ini dinilai cukup untuk mendorong ekspansi pemain yang sudah ada dan menarik perusahaan kecil hingga menengah masuk ke sektor migas Venezuela.
Namun, reformasi tersebut belum cukup dalam untuk memicu gelombang investasi besar. Sejumlah eksekutif dan pengacara menilai masih terdapat bahasa hukum yang ambigu dan klausul yang saling bertentangan, terutama terkait perdagangan dan perpajakan. Ketidakpastian ini membuat perusahaan migas besar global masih bersikap hati-hati, meskipun pemerintah AS mendorong investasi agresif untuk memulihkan industri energi Venezuela yang membutuhkan dana hingga US$100 miliar.
Dari perspektif pasar global, pemulihan produksi Venezuela juga diperkirakan tidak akan berdampak signifikan dalam waktu dekat. Sejumlah pejabat OPEC+ menyebutkan bahwa kenaikan output Venezuela akan memakan waktu dan belum cukup besar untuk mengubah keseimbangan pasar minyak dunia dalam jangka pendek, menurut Reuters.
Pada saat yang sama, OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan jeda kenaikan produksi untuk Maret dalam pertemuan awal Februari. Delapan negara utama OPEC+ memilih menahan tambahan pasokan setelah harga minyak melonjak sekitar 8% sepanjang Januari. Keputusan ini diperkuat oleh gangguan produksi di Kazakhstan, di mana output Januari diperkirakan turun tajam akibat masalah teknis dan serangan drone.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)