Ngeri! Bos JPMorgan Sebut Perang Dunia III Sudah Dimulai
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menyebut bahwa Perang Dunia III sudah dimulai, dengan konflik yang terkoordinasi di berbagai negara. Hal ini ia sampaikan pada Oktober 2024 lalu, dengan memperingatkan bahwa perang dan proliferasi nuklir merupakan ancaman eksistensial yang lebih besar dibandingkan perubahan iklim.
Dalam forum tahunan Institute of International Finance di Washington, D.C., Dimon menilai potensi konflik antara negara-negara Barat dengan China, Rusia, Iran, atau Korea Utara jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan ketidakstabilan pasar keuangan global. JPMorgan Chase, menurutnya, bahkan telah menyusun berbagai skenario ekstrem untuk menghadapi kemungkinan konflik global.
Melansir Money Wise, Dimon menegaskan bahwa ketegangan geopolitik global terus meningkat sejak pernyataannya tersebut, meski Perang Dunia III belum benar-benar terjadi. Eskalasi ini dinilai turut dipicu oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin agresif.
Dalam setahun terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan tarif besar-besaran terhadap negara seperti China dan Rusia, termasuk terhadap sekutu tradisional seperti Kanada dan Uni Eropa. Amerika Serikat juga dinilai melanggar norma internasional melalui ancaman berbasis tarif, termasuk terhadap Greenland.
Trump bahkan berulang kali menyatakan keinginannya agar Amerika Serikat "memiliki" Greenland demi mengamankan hak atas sumber daya mineral. Usai World Economic Forum 2026, Trump mengumumkan kerangka kesepakatan sementara dengan Sekjen NATO Mark Rutte terkait Greenland setelah berminggu-minggu eskalasi.
Langkah tersebut menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan ancaman tarif tidak dapat diterima dan Eropa akan merespons secara bersatu demi menjaga kedaulatan kawasan.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyatakan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya menjadi hak rakyat Greenland dan Kerajaan Denmark. Ia menegaskan Inggris akan mendukung prinsip fundamental tersebut.
Kritik juga datang dari internal Partai Republik di Amerika Serikat. Anggota DPR AS Don Bacon menyebut ancaman Trump terhadap Greenland sebagai tindakan absurd dan tidak pantas terhadap sekutu NATO.
Dari kalangan pelaku pasar, laporan S&P Global tahun 2025 menyebut dunia yang sebelumnya ditopang globalisasi kini bergeser menjadi tatanan yang sarat risiko geopolitik. Volatilitas ini dinilai berdampak signifikan terhadap prospek ekonomi global, termasuk pertumbuhan, inflasi, pasar keuangan, dan rantai pasok.
Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian yang tinggi di tengah pasar global. Situasi ini membuat banyak pelaku ekonomi dan investor kebingungan dalam menentukan langkah untuk melindungi kondisi keuangan mereka.
(ayh/ayh)