Rupiah Putar Balik Jadi Perkasa, Ini Penjelasan & Ramalan BI!

MAIKEL JEFRIANDO, CNBC Indonesia
Senin, 26/01/2026 13:25 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Solo, CNBC Indonesia-Nilai tukar rupiah akhirnya berbalik arah dalam beberapa hari terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS), semakin menjauh dari level Rp17.000/US$.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali sesi pagi dengan penguatan 0,24% ke posisi Rp16.770/US$. Penguatan ini melanjutkan tren positif akhir pekan lalu, ketika pada Jumat (23/1/2026) rupiah ditutup di level Rp16.810/US$, menguat 0,41%.


Hal ini memang sejalan dengan keyakinan Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) rupiah kembali dalam tren penguatan.

"BI memiliki komitmen yang kuat mengenai nilai tukar," kata Juli Budi Winantya, Direktur di Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia saat berbincang dengan media di Solo akhir pekan lalu.

Juli menjelaskan dari sisi global sebenarnya masih akan memberikan tekanan. Ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3,2% pada 2026, lebih rendah dari tahun sebelumnya dipengaruhi oleh kebijakan tarif AS dan ketegangan geopolitik.

Suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate tetap menjadi kekhawatiran meskipun diperkirakan akan turun kembali pada 2026. Ini dipengaruhi oleh perkembangan ketenagakerjaan dan inflasi AS.

Atas persoalan tersebut, arus modal asing bergerak keluar. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) sepanjang periode perdagangan 19-22 Januari 2026, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih (net outflow) sebesar Rp5,96 triliun. Outflow ini sekaligus menjadi arus keluar modal asing dalam dua pekan beruntun. Arus keluar ini terjadi merata di ketiga instrumen utama pasar keuangan dalam negeri, mulai dari saham hingga surat utang pemerintah.

Pada periode tersebut, asing tercatat net sell sebesar Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Rp1,85 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Komposisi ini menunjukkan investor asing cenderung mengurangi eksposur secara luas di awal 2026 ini seiring meningkatnya kehati-hatian di tengah ketidakpastian global.

Dari dalam negeri, Juli mengatakan ekonomi nasional diproyeksi tetap melanjutkan tren pertumbuhan. Seiring dengan beragam stimulus dari pemerintah untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga dan investasi. "Ekonomi Indonesia masih di bawah kapasitasnya, jadi masih ada ruang untuk meningkatkan lebih tinggi," jelasnya.

Fundamental ekonomi yang membaik serta imbal hasil menarik akan mendorong investor asing untuk menempatkan modalnya di dalam negeri. Dengan demikian rupiah berpotensi untuk menguat ke depannya.

"Namun ketika ada gejolak BI akan melakukan intervensi tidak hanya valas domestik, spot, forward, tapi juga di valas luar negeri, sehingga itu kami melihat upaya kita menjaga stabilitas rupiah," terang Juli.

Stabilitas rupiah sangat penting untuk dijaga, terutama bagi kalangan dunia usaha. Rupiah dengan volatilitas tinggi akan menyulitkan dunia usaha membuat rencana, termasuk antisipasi risiko. "Volatilitas itu akan berpengaruh pada confident," imbuhnya.


(mij/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Outflow Asing Rp7,71 Triliun, Tekanan Terbesar dalam 3 Bulan