Tekanan Jual Masih Besar, IHSG Sesi 1 Turun 1,28%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi 1 di zona merah, Jumat (23/1/2026). Indeks anjlok 1,28% atau -115,28 poin ke level 8.876,9.
Sebanyak 615 saham turun, 212 tidak bergerak, dan hanya 131 saham yang naik. Nilai transaksi siang ini mencapai Rp 18,31 triliun, melibatkan 38,79 miliar saham dalam 2,07 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 16.112 triliun.
Sejumlah saham terkena aksi jual signifikan. Petrosea (PTRO) mencatat nilai transaksi Rp 3,97 triliun dan mengalami koreksi 14,395. Sepanjang sesi 1 PTRO mencatat net sell Rp 232,6 miliar.
Mengutip Refinitiv, saham emiten Prajogo Pangestu memang menjadi pemberat utama IHSG siang ini. Barito Renewables Energy (BREN) membebani -14,81 indeks poin. BREN sepanjang sesi 1 turun 4,21% ke level 9.100.
Selain itu Barito Pacific (BRPT) dan Petrosea (PTRO) menyeret IHSG turun dengan bobot -13,77 indeks poin dan -9,65 indeks poin. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) membebani -4,82 indeks poin.
Sementara itu, sektor yang turun paling dalam adalah utilitas (-3,82%). Lalu diikuti oleh industri (-2,39%), bahan baku (-2,21%), properti (-2,2%), dan konsumer non-primer (-1,76%).
Adapun sentimen pasar keuangan pada akhir pekan ini masih cenderung hati-hati, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan perdagangan AS, serta data ketenagakerjaan AS.
Sentimen lain yang juga berpotensi memberi tekanan ke pasar adalah meningkatnya risiko arus dana asing keluar (foreign outflow) apabila MSCI benar-benar menerapkan formula baru perhitungan free float untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia dalam indeks mereka.
Dalam skema terbaru ini, MSCI tidak lagi hanya melihat kepemilikan publik secara administratif, tetapi juga memperhitungkan kualitas likuiditas dan aksesibilitas saham di pasar.
Saham dengan porsi kepemilikan pengendali yang besar, likuiditas rendah, atau kepemilikan publik yang dinilai tidak benar-benar tradable berisiko mengalami penurunan free float adjustment factor.
Dampaknya, bobot saham Indonesia di indeks MSCI dapat tertekan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar namun dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.
Penyesuaian bobot ini berpotensi memicu penjualan teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI, sehingga memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.
Selain itu, sejumlah saham yang mengalami tekanan penjualan beberapa hari ini dinilai ada kaitan-nya dengan rebalancing MSCI edisi Februari mendatang.
Walaupun aturan baru perhitungan free float belum secara resmi diberlakukan, pasar cenderung bergerak lebih dulu dengan mengantisipasi skenario terburuk.
Ekspektasi tersebut membuat pasar mulai "kembali ke realita", bahwa tidak semua saham berkapitalisasi besar secara otomatis layak masuk atau bertahan di indeks populer seperti MSCI, terutama jika struktur kepemilikan, likuiditas, dan investability-nya dinilai kurang memadai.
Akibatnya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuation premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.
(mkh/mkh)