Tekanan Kelas Menengah Bikin Bank Ekstra Hati-hati Salurkan Kredit

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 07:30 WIB
Foto: Sejumlah pekerja berjalan pulang di Kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (13/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia — Di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang masih terjaga pada level high single digit sepanjang 2025, segmen kredit konsumsi dan UMKM masih menjadi perhatian utama perbankan karena dinilai memiliki tingkat risiko yang relatif lebih tinggi.

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,69% secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pelonggaran standar penyaluran kredit.

Meskipun demikian Gubernur BI Perry Warjiyo menilai segmen UMKM dan konsumsi masih menyimpan risiko sehingga bank cenderung lebih selektif.


Director of Risk, Compliance, and Legal Allo Bank Indonesia Ganda Raharja Rusli mengatakan bahwa kredit retail pada dasarnya tidak dapat dihindari karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Namun, perbankan perlu mengandalkan teknologi dan proses underwriting yang lebih mendalam agar risiko kredit bermasalah dapat ditekan.

"Kredit retail itu nggak mungkin dihindari, karena kebutuhan masyarakat tetap ada. Cuma memang dibutuhkan teknologi dan juga underwriting yang lebih dalam lagi untuk bisa menghindarkan bank dari memberikan kredit yang pengembaliannya rendah kepada bank dan juga supaya kredit itu tidak membebani masyarakat," ujar Ganda saat ditemui di Gedung A.A. Maramis, Rabu (22/1/2026).

Ia menambahkan, perbankan juga tengah mewaspadai dampak pengetatan ekonomi, khususnya terhadap kelas menengah. Menurutnya, kelompok ini menjadi yang paling terdampak karena tidak sepenuhnya terlindungi oleh bantuan sosial, sekaligus menghadapi beban biaya hidup dan pajak yang meningkat.

"Yang golongan atas ekonominya tidak terlalu terpengaruh, yang golongan bawah mungkin dibantu oleh BLT. Yang di tengah ini yang banyak merasakan tekanan. Jadi kita akan terus memberikan kredit retail, tapi memang lebih berhati-hati," jelasnya.

Pandangan senada disampaikan Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia Efdinal Alamsyah. Ia mengakui bahwa tingkat kerugian dari kredit konsumsi relatif lebih tinggi dibandingkan segmen kredit lainnya, sehingga bank akan mengambil langkah yang lebih konservatif tahun ini.

"Untuk outlook tahun ini, kami melihat kredit konsumsi masih memiliki potensi, namun pertumbuhannya akan lebih moderat," ujar Efdinal kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/1/2026).

Ke depan, OK Bank akan lebih memprioritaskan nasabah dengan profil risiko yang lebih baik, dengan mengandalkan data dan sistem credit scoring yang lebih ketat. Dengan pendekatan tersebut, Efdinal optimistis kredit konsumsi tetap dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, meski tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kredit Perbankan 2025 Tumbuh 9,6%, BI Optimistis Genjot Kredit