Robert Kiyosaki Ungkap Waktu Terbaik Untuk Menjadi Kaya
Jakarta, CNBC Indonesia - Penulis buku Rich Dad Poor Dad Robert Kiyosaki kembali membuat pernyataan kontroversial terkait kondisi pasar global. Ia menyebut waktu terbaik untuk menjadi kaya semakin dekat, namun secara bersamaan memperingatkan bahwa pasar properti sedang runtuh dan masa-masa sulit akan datang.
Melansir Yahoo Finance, Kiyosaki sebelumnya menulis di platform X pada Juli 2024 bahwa peluang besar untuk memperkaya diri akan segera tiba. Meski demikian, ia menekankan bahaya belum berlalu karena kehancuran pasar tidak terjadi dalam semalam, melainkan berlangsung selama puluhan tahun.
Sejauh ini, pasar keuangan global masih menunjukkan ketahanan meski bergejolak. Indeks acuan S&P 500 tercatat naik lebih dari 17% secara year-to-date hingga akhir Desember, mencerminkan pemulihan setelah fluktuasi tajam di awal tahun.
Namun, Kiyosaki menilai optimisme tersebut menyesatkan karena krisis besar menurutnya masih berproses. Dalam unggahan terbarunya, ia menegaskan bahwa kejatuhan pasar adalah akumulasi panjang, bukan kejadian mendadak.
Menghadapi situasi tersebut, Kiyosaki membagikan nasihat dari sosok yang ia sebut sebagai Rich Dad. Ia menekankan pentingnya memiliki sumber penghasilan pasif atau "menghasilkan uang saat tidur" sebagai kunci menjadi kaya.
Selain itu, ia menyarankan masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan literasi keuangan. Kiyosaki mendorong orang-orang untuk rajin belajar, mengikuti seminar, dan mendengarkan nasihat dari mereka yang telah sukses.
Peringatan "masa buruk" yang disampaikan Kiyosaki didasarkan pada analisis historis sistem moneter. Ia menilai krisis besar yang tengah berlangsung berakar sejak 1913, ketika Federal Reserve AS mengambil alih sistem moneter Amerika Serikat.
Menurut Kiyosaki, kejatuhan pasar berskala besar akan sangat merugikan investor ritel. Ia mencontohkan krisis perumahan dan kredit global akhir 2000-an yang membuat rumah tangga AS kehilangan sekitar US$16 triliun kekayaan bersih.
Contoh lainnya terjadi pada aksi jual pasar saham 2022 yang menyebabkan kerugian sekitar US$3 triliun bagi peserta dana pensiun 401(k) dan IRA. Meski tidak sebesar prediksi "krisis terburuk dalam sejarah", angka tersebut menunjukkan besarnya dampak gejolak pasar.
Meski bernada pesimistis, Kiyosaki menilai tetap akan ada pihak yang diuntungkan. Ia meyakini investor yang memahami sejarah moneter akan diuntungkan dari kenaikan harga emas, perak, serta aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum saat sistem fiat runtuh.
Optimisme Kiyosaki terhadap aset tersebut didasari ketidakpercayaannya pada mata uang fiat AS. Ia menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan utang terbesar dalam sejarah, sehingga kepercayaan terhadap uang fiat kian tergerus.
Kiyosaki bahkan membuat proyeksi harga yang sangat agresif. Ia memperkirakan harga perak bisa menembus US$100 per ons pada 2026 dan berpotensi mencapai US$200 per ons.
Untuk emas, prediksinya jauh lebih ekstrem. Kiyosaki mengklaim target harga emas bisa mencapai US$27.000 per ons, berdasarkan pandangan ekonom Jim Rickards dan kepemilikannya atas dua tambang emas.
Tahun ini sendiri menjadi periode emas bagi logam mulia. Harga perak melonjak lebih dari 160% sepanjang 2025, sementara emas menguat lebih dari 66% dan menjadi aset dengan kinerja terbaik kedua.
Dengan prediksi reli berlanjut hingga 2026, Kiyosaki mendorong investor memanfaatkan pasar logam mulia sebagai investasi jangka panjang. Ia menyebut investasi ini dapat dikaitkan dengan perencanaan pensiun untuk menjaga stabilitas keuangan.
Di sisi lain, Kiyosaki juga menyoroti potensi Bitcoin meski risikonya tinggi. Ia mengingatkan volatilitas ekstrem, termasuk insiden *flash crash* yang sempat memangkas nilai pasar kripto hingga ratusan miliar dolar dalam waktu singkat.
Meski dikenal dengan prediksi pasar yang ekstrem, Kiyosaki menegaskan pentingnya kehati-hatian. Ia menyarankan investor mencari nasihat tambahan dan memahami risiko sebelum terjun ke instrumen investasi baru.
(ayh/ayh)[Gambas:Video CNBC]