Ada Efek Venezuela, Harga Minyak Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (22/1/2026), seiring kombinasi sentimen geopolitik, sinyal permintaan global yang membaik, serta manuver baru pasokan dari Venezuela ke Amerika Serikat.
Mengacu data Refinitiv, per pukul 10.10 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat di level US$65,33 per barel, naik tipis dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di US$60,75 per barel.
Pergerakan harga ini memperpanjang tren penguatan bertahap dalam sepekan terakhir, meskipun laju kenaikannya masih tertahan oleh isu kelebihan pasokan global.
Kilang minyak Valero Energy dilaporkan membeli satu kargo minyak mentah Venezuela dari Vitol, menandai transaksi pertama oleh kilang Pantai Teluk AS sebagai bagian dari kesepakatan Washington-Caracas untuk membeli hingga 50 juta barel minyak Venezuela.
Minyak Venezuela tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar US$8,5-US$9,5 per barel terhadap Brent, mencerminkan upaya agresif Caracas untuk kembali masuk ke pasar global setelah pelonggaran izin pemasaran minyak oleh AS bulan ini.
Sebelum sanksi diberlakukan pada 2019, kilang-kilang besar AS tercatat mengolah sekitar 800.000 barel per hari minyak berat Venezuela. Artinya, kembalinya aliran ini berpotensi menambah pasokan di pasar, namun dalam jangka pendek justru dipandang sebagai faktor stabilisasi bagi rantai pasok global.
Permintaan Global Naik, Tapi Surplus Masih Gemuk
Dari sisi permintaan, International Energy Agency (IEA) memberikan sentimen positif dengan merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 930.000 barel per hari, dari sebelumnya 860.000 bpd.
Namun, revisi tersebut belum cukup untuk menghapus bayang-bayang surplus. Berdasarkan perhitungan Reuters, pasokan global masih diperkirakan melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari tahun ini. IEA sendiri menegaskan bahwa "neraca pasokan yang gemuk" masih menjadi rem alami bagi lonjakan harga.
Dengan kata lain, permintaan membaik, tetapi belum cukup rakus untuk menghabiskan stok dunia.
Trump, Greenland, dan Efek Psikologis Pasar
Dari ranah geopolitik, harga minyak ikut terbantu oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali ancaman tarif terkait sengketa Greenland. Redanya risiko perang dagang AS-Eropa dinilai pasar sebagai kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi energi.
Selain itu, Trump juga menegaskan tidak akan ada aksi militer lanjutan terhadap Iran selama Teheran tidak mengaktifkan kembali program nuklirnya. Kombinasi pernyataan ini menciptakan efek psikologis positif, meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Analis menilai selama risiko geopolitik besar dapat diredam dan konflik tidak meningkat menjadi gangguan pasokan nyata, harga minyak cenderung bertahan di kisaran US$60-65 per barel.
Di sisi lain, data persediaan minyak AS masih menjadi batu sandungan. American Petroleum Institute (API) mencatat kenaikan stok minyak mentah sebesar 3,04 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya sekitar 1,1 juta barel.
Lonjakan stok ini menegaskan bahwa pasar masih berada dalam kondisi oversupply, sehingga ruang kenaikan harga menjadi terbatas meskipun sentimen geopolitik dan permintaan membaik.
CNBC Indonesia
(emb/emb)