MARKET DATA

Harga Minyak Dunia Melemah, Bayang-Bayang Banjir Pasokan Venezuela

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 January 2026 11:35
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak turun tipis pada perdagangan Rabu (14/1/2026) pagi waktu Indonesia, di tengah membanjirnya kembali risiko pasokan dari Amerika Latin dan kawasan Laut Hitam yang membuat pasar masuk ke fase "supply shock management".

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 10.20 WIB, harga minyak Brent tercatat di US$65,34 per barel, turun 0,2% dari posisi Selasa. Sementara WTI berada di US$60,96 per barel, melemah sekitar 0,3%.

Melansir Reuters, secara teknikal, pergerakan minyak masih berada di fase reli sejak awal Januari. Brent sudah naik lebih dari 9% dari level US$59,96 pada 7 Januari, sementara WTI menguat hampir 9% dari US$55,99. Namun reli ini mulai kehilangan momentum karena pelaku pasar kini lebih fokus pada potensi tambahan pasokan ketimbang risiko geopolitik.

Pemicu utama datang dari Venezuela. Menurut laporan Reuters, perusahaan minyak negara PDVSA mulai membalikkan pemangkasan produksi setelah ekspor minyak kembali berjalan di bawah pengawasan Amerika Serikat. Produksi yang sempat anjlok dari 1,16 juta barel per hari pada akhir November menjadi sekitar 880 ribu barel per hari pekan lalu kini mulai dipulihkan seiring keberangkatan kapal-kapal tanker dari pantai Venezuela. Ini menandai kembalinya jutaan barel Venezuela ke pasar global setelah sempat terjebak akibat embargo AS.

Dari sisi geopolitik, kawasan Laut Hitam justru memperlihatkan arah sebaliknya. Reuters melaporkan sejumlah tanker minyak diserang drone saat menuju terminal ekspor CPC di Rusia, yang menjadi jalur sekitar 80% ekspor minyak Kazakhstan. Akibat gangguan ini, produksi minyak dan kondensat Kazakhstan dilaporkan turun 35% pada 1-12 Januari dibandingkan rata-rata Desember, terutama karena hambatan ekspor. Secara teori ini seharusnya mendukung harga, tetapi pasar melihat gangguan ini bersifat sementara dan bisa ditutupi oleh suplai dari wilayah lain.

Di sisi fundamental jangka menengah, tekanan datang dari Amerika Serikat.

Energy Information Administration (EIA) dalam laporan bulanan terbarunya memperkirakan harga Brent rata-rata hanya US$56 per barel pada 2026, turun dari US$69 tahun lalu, karena produksi global melampaui pertumbuhan permintaan dan mendorong penumpukan stok. EIA juga menegaskan bahwa jika sanksi terhadap Venezuela dilonggarkan, tambahan pasokan dari negara itu bisa menekan harga lebih dalam lagi.

Kombinasi ini menciptakan struktur pasar yang rapuh, adanya gangguan fisik dari konflik dan serangan drone, tetapi di sisi lain ada gelombang pasokan baru dari Venezuela dan potensi kelebihan suplai global. Itu sebabnya, meskipun harga minyak masih bertahan di atas US$60 per barel, pasar mulai menilai bahwa reli sejak awal Januari lebih bersifat short-covering dan technical rebound, bukan perubahan fundamental.

CNBC Indonesia

(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ada Kekhawatiran Serangan Drone Ukraina, Harga Minyak Masih Stabil


Most Popular
Features