Iran Memanas, Harga Minyak Terus Membara
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia membuka awal pekan dengan posisi yang tetap kuat.
Melansir Refinitiv per pukul 10.10 WIB, Senin (12/1/2026) Brent berada di US$63,42 per barel, sementara WTI bertahan di US$59,17 per barel.
Dalam sepekan terakhir, kedua acuan tersebut sudah naik lebih dari 3%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober. Lonjakan ini tidak datang dari faktor cara pasar membaca risiko geopolitik, terutama yang bersumber dari Iran.
Penindakan terhadap gelombang protes besar di Iran telah memunculkan kembali kekhawatiran tentang stabilitas pasokan dari salah satu produsen utama OPEC. Laporan yang menyebut korban tewas telah melampaui ratusan orang membuat pasar mulai memasukkan skenario yang lebih serius, termasuk kemungkinan terganggunya produksi dan ekspor minyak Iran.
Analis menilai pasar belum sepenuhnya melakukan price in risiko jika konflik di Iran melebar. Bukan hanya karena potensi gangguan produksi, tetapi juga karena implikasinya terhadap jalur pengiriman energi global, terutama Selat Hormuz, yang menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk.
Dari sisi tenaga kerja, tekanan juga muncul. Ada seruan agar pekerja di sektor minyak Iran ikut berhenti bekerja sebagai bagian dari protes. Jika ini benar-benar terjadi, pasokan sekitar 1,9 juta barel per hari berpotensi terdampak angka yang cukup besar untuk mengubah keseimbangan pasar dalam waktu singkat.
Meski demikian, reli harga tidak bergerak tanpa rem. Pasar juga sedang memperhitungkan perkembangan di Venezuela. Pemerintahan AS memberi sinyal untuk membuka kembali aliran ekspor minyak Venezuela dengan rencana mengalihkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya diblokir ke pasar Amerika Serikat. Perusahaan energi sudah mulai menyiapkan kapal dan logistik untuk menarik minyak dari pelabuhan-pelabuhan Venezuela.
Masuknya pasokan tambahan dari Venezuela inilah yang menahan harga agar tidak melonjak lebih jauh. Ketika risiko Iran mendorong pasar ke atas, prospek minyak Venezuela berfungsi sebagai penyeimbang.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)