MARKET DATA

Asing Masuk Kencang di Awal 2026, Saham Ini Diborong!

mkh,  CNBC Indonesia
12 January 2026 07:20
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp2,04 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang periode 5-9 Januari 2026. Aksi beli bersih tersebut menandai meningkatnya minat investor global terhadap saham-saham berkapitalisasi besar maupun sektor komoditas di awal tahun.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perbankan dan emiten tambang menjadi tujuan utama aliran dana asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat sebagai saham dengan net buy asing terbesar, mencapai Rp653,5 miliar sepanjang sepekan.

Di posisi kedua, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan net buy asing Rp628 miliar, seiring tetap solidnya sentimen terhadap komoditas logam dan mineral strategis.

Sementara itu, saham konsumer PT Astra International Tbk (ASII) dan emiten migas PT Petrosea Tbk (PTRO) juga masuk dalam daftar teratas dengan net buy masing-masing di kisaran Rp555 miliar.

Tak ketinggalan, saham bank jumbo PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi incaran asing dengan catatan beli bersih lebih dari Rp500 miliar.

Selengkapnya, berikut 10 saham dengan net buy asing terbesar sepanjang 5-9 Januari 2026:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) - Rp653,5 miliar
  2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) - Rp628 miliar
  3. PT Astra International Tbk (ASII) - Rp555,8 miliar
  4. PT Petrosea Tbk (PTRO) - Rp555,4 miliar
  5. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Rp505,3 miliar
  6. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) - Rp393,3 miliar
  7. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) - Rp329,8 miliar
  8. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) - Rp264,2 miliar
  9. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) - Rp220,7 miliar
  10. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) - Rp209 miliar

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan lalu, Jumat (9/1/2026) nyaris di zona merah. Setelah sempat naik 0,62%, IHSG sempat terperosok ke 8.908,17 atau turun 0,19%.

Pada akhir pekan lalu, IHSG naik 0,13% ke level 8.936,75. Dengan demikian pada pekan pertama tahun ini, IHSG tercatat naik 1,8%.

Sebanyak 381 saham naik, 331 turun, dan 246 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 27,32 triliun, melibatkan 54,36 miliar saham dalam 3,4 juta kali transaksi.

Mengutip Refinitiv, sektor konsumer non-primer naik paling kencang, yakni 2,1%. Lalu diikuti oleh industri 1,78% dan kesehatan 1,34%.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Dibuka Naik 0,8%, Saham Bank Diserbu


Most Popular
Features