4 Mata Uang Negara Ini Paling Tersiksa Lawan Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah mata uang negara Afrika diproyeksikan masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi menyusul dengan kuatnya permintaan dolar di pasar global.
Pelaku pasar menilai mata uang Ghana, Uganda, dan Zambia berpotensi melemah, sementara shilling Kenya diprediksi cenderung stabil dalam sepekan ke depan.
1. Ghana
Mata uang Ghana yakni cedi, diperkirakan akan terus berada di bawah tekanan seiring meningkatnya permintaan valuta asing dari sektor energi dan jasa, serta investor portofolio asing.
Data LSEG menunjukkan cedi diperdagangkan di level 10,70 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan 10,45 per dolar AS pada Kamis lalu.
Kepala Perdagangan Absa Bank Ghana Andrews Akoto mengatakan permintaan valuta asing dari rekening korporasi domestik diperkirakan menguat dalam beberapa sesi mendatang seiring kembalinya aktivitas bisnis usai libur.
Ia menambahkan masih terdapat permintaan dolar yang belum terpenuhi dari lelang bank sentral pada Selasa lalu yang mencatat lebih dari US$350 juta dalam penawaran, dibandingkan dengan total penawaran US$125 juta.
"Hal ini dapat memicu penguatan dolar dalam sesi mendatang," ujar Akoto dikutip dari Reuters, Minggu (11/1/2026).
2. Uganda
Mata uang shilling Uganda diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah dalam beberapa pekan ke depan. Kekhawatiran pasar terhadap potensi kekerasan terkait pemilu dinilai dapat menggerus kepercayaan terhadap mata uang tersebut.
Bank-bank komersial mengutip nilai tukar shilling di kisaran 3.570/3.580 per dolar AS, menguat dibandingkan penutupan Rabu lalu di level 3.615/3.625 per dolar AS.
"Ada sedikit ketidakpastian dan kekhawatiran seputar pemilu dalam hal apakah akan terjadi kerusuhan ... yang akan memukul kepercayaan," kata seorang pedagang valuta asing independen di Kampala.
3. Zambia
Mata uang kwacha Zambia diperkirakan akan mengalami volatilitas minggu depan karena peningkatan permintaan mata uang asing yang diantisipasi dan berkurangnya pasokan.
Bank-bank komersial mengutip mata uang negara produsen tembaga terbesar kedua di Afrika tersebut di level 20,05 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi 22,35 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Kwacha mencatatkan kenaikan setelah perusahaan-perusahaan melepas simpanan dolar menyusul arahan bank sentral pada akhir Desember yang membatasi penggunaan valuta asing dalam transaksi domestik, kata Access Bank.
"Momentum ini berpotensi menghadapi beberapa hambatan jangka pendek sekitar pertengahan Januari karena perekonomian secara keseluruhan kembali ke kapasitas penuh dan permintaan dolar korporasi yang tertahan muncul kembali," tambahnya.
4. Kenya
Shilling Kenya diproyeksikan relatif stabil pada pekan depan seiring dibukanya kembali aktivitas bisnis.
Mata uang tersebut diperdagangkan di kisaran 128,85/129,15 per dolar AS, dibandingkan penutupan Rabu lalu di sekitar 128,90 per dolar AS.
(ven/haa)