Kalah dari Baht & Dong, Rupiah Masuk Tiga Terlemah Asia
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/1/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,06% dan ditutup di level Rp16.795/US$. Pelemahan sekaligus memperpanjang tren pelemahan rupiah menjadi enam hari perdagangan beruntun sejak awal 2026.
Mencerminkan pelemahan rupiah sebesar 0,48% secara point-to-point dalam sepekan. Secara regional, rupiah berada di kelompok terbawah Asia, hanya sedikit lebih baik dari won Korea dan yen Jepang.
Di antara mata uang Asia, tekanan rupiah menjadi kontras dengan pergerakan baht Thailand dan dong Vietnam. Dalam periode yang sama, baht menguat 0,41% terhadap dolar AS, diikuti dong Vietnam yang naik 0,27% serta yuan China yang menguat 0,23%. Tiga mata uang ini menjadi penahan utama Asia dari tekanan dolar yang kembali menguat di pasar global.
Sebaliknya, mata uang Asia Timur justru menjadi titik lemah. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam dengan depresiasi 1,01% dalam sepekan, disusul yen Jepang yang turun 0,68%. Rupiah Indonesia berada tepat di belakangnya dengan koreksi 0,48%, lebih buruk dibanding ringgit Malaysia yang turun 0,44% dan rupee India yang melemah 0,25%.
Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia terjadi di tengah kembalinya dominasi dolar AS. Sentimen global sepanjang pekan lalu didorong oleh reli kuat pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones mencetak rekor baru, mencerminkan arus modal yang kembali deras ke aset dolar setelah rilis data ketenagakerjaan AS.
Laporan nonfarm payrolls (NFP) Desember menunjukkan penciptaan lapangan kerja hanya 50.000, lebih rendah dari ekspektasi. Namun tingkat pengangguran justru turun ke 4,4%, menandakan pasar tenaga kerja AS melambat tetapi belum cukup lemah untuk memaksa The Fed mengubah arah kebijakan. Kombinasi ini membuat pelaku pasar melihat ekonomi AS dalam fase "softened but firm", cukup kuat untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Implikasinya, dolar tetap menjadi tujuan utama arus dana global. Dengan ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak perlu memangkas suku bunga pada pertemuan Januari atau Maret, imbal hasil aset dolar tetap atraktif. Inilah yang membuat mata uang emerging market, termasuk di Asia, sulit keluar dari tekanan meskipun data ekonomi AS tidak sepenuhnya panas.
Bagi rupiah, tekanan tersebut terasa lebih tajam. Sepanjang Jumat, rupiah sempat menyentuh Rp16.843 per dolar AS sebelum ditutup di Rp16.795, menandai enam hari perdagangan beruntun dalam tren melemah. Permintaan dolar meningkat seiring penguatan DXY, sementara pasar juga dibayangi ketidakpastian baru dari Amerika Serikat, termasuk potensi implikasi putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan presiden dalam kebijakan tarif darurat.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)